“Menjadi kesatria ternyata tidak enak ya, Jack.”
“Ya, memang menjadi seorang kesatria membutuhkan banyak
sekali dedikasi dan keinginan. Kau tidak bisa tiba-tiba ingin menjadi kesatria
dan saat bosan meninggalkannya.”
“Ya, tapi aku tidak pernah membayangkan jadinya akan seperti
ini. Tidak pernah terbesit dalam pikiranku bahwa ini adalah pekerjaan seorang
kesatria.”
Memang, bayangan seorang kesatria berbeda jauh dari apa yang
kita inginkan. Kalian pikir kesatria seperti kami memiliki hal yang dinamakan
kehormatan? Memiliki apa yang dinamakan tata cara bertarung? Saat kau di medan
perang, semua itu tidak ada. Tidak ada yang bernama kode kehormatan, tidak ada
yang dinamakan sifat kesatria. Yang ada hanyalah bunuh atau dibunuh. Tapi
meskipun hal itu harus kau ingat baik-baik, aku tidak pernah menyangka hal ini
akan terjadi. Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan menjadi pembunuh 25
orang. Orang-orang yang kuat dan terhormat. Orang-orang yang melindungi kami
dan memberikan kami makanan. Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi.
“Apakah kita akan dihukum Jack? Dihukum oleh tuhan diatas
sana?”
“Tuhan? Menurutmu dia ada? Dalam dunia ini dimana kau
membunuh atau dibunuh? Dimana setiap saat kau berdoa seharusnya kau mendapatkan
kekuatan untuk kebal terhadap kematian?”
“Ya, tepat sekali.”
“Jika Tuhan memang ada, maka pria dan wanita ini tidak akan
mati. Mereka masih hidup dan meneruskan cerita mereka. Mereka bisa dengan
senang bercanda ria. Tapi kita, kita membuat mereka mati. Dan jika memang tuhan
ada, seharunya kita sudah mati sebelum pedang ditarik. Sebelum ada niat untuk
membunuh mereka, sebelum kita lahir. Tapi tetap saja, tuhan membiarkan kita
membunuh mereka. Membuat darah mereka manjadi bunga yang indah.”
“Begitu ya, jadi kita mau kemana sekarang Jack?”
“Sekarang? Komandan tidak menyuruh kita untuk melakukan
apapun selain membunuh orang-orang ini kan? Mungkin jika kita memalsukan
kematian kita bisa kabur, atau langsung saja kabur.”
“Lebih baik kita langsung pergi saja, aku sudah muak menjadi
seorang kesatria. Ini bukanlah bayanganku.”
“Bayanganmu apa? Menjadi seorang pahlawan? Hah, tidak
mungkin bisa. Kecuali kau memiliki pangkat seperti komandan, yang kau impikan
itu tidak akan terjadi.”
“Apa? Dunia tanpa konflik?”
“Ya.”
“Haha, kau masih muda, teruslah bermimpi. Sekarang ini yang
ada hanyalah dunia penuh konflik. Dan aku ragu apakah akan selesai dengan cepat
atau tidak.”
“Haah, ya sudah, sekarang mau kemana kita?”
“Bagaimana kalau kita pergi ke rumah dokter Mainfried? Dia
pasti mau menerima kita dengan keadaan yang seperti ini.”
“Sepertinya asyik, ayo kalau begitu.”
Selama perjalanan aku masih tidak bisa berhenti berpikir,
mengapa dunia begitu kejam? Mengapa makhluk yang orang-orang bilang paling
agung dan kuat seringkali tidak membantu mereka yang membutuhkan? Apa
alasannya? Supaya manusia bisa membantu diri mereka sendiri dan dengan begitu mereka
terselamatkan? Ini bukan diselamatkan, tapi menyelamatkan namanya. Terkadang aku
bingung apa yang mereka ingin lakukan. Apa kematian inilah yang dinamakan dosa?
Lalu aku adalah malaikat yang membayar dosa itu? Atau sebenarnya apakah aku
sendiri yang melakukan dosa itu? Dan mereka yang matilah bayarannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini sungguh-sungguh. Membingungkan.

No comments:
Post a Comment