Wednesday, March 1, 2017

Knight of Virtue

“Menjadi kesatria ternyata tidak enak ya, Jack.”

“Ya, memang menjadi seorang kesatria membutuhkan banyak sekali dedikasi dan keinginan. Kau tidak bisa tiba-tiba ingin menjadi kesatria dan saat bosan meninggalkannya.”

“Ya, tapi aku tidak pernah membayangkan jadinya akan seperti ini. Tidak pernah terbesit dalam pikiranku bahwa ini adalah pekerjaan seorang kesatria.”

“Membunuh orang? Ini memang salah satu pekerjaan mereka. Pekerjaan kita.”

Memang, bayangan seorang kesatria berbeda jauh dari apa yang kita inginkan. Kalian pikir kesatria seperti kami memiliki hal yang dinamakan kehormatan? Memiliki apa yang dinamakan tata cara bertarung? Saat kau di medan perang, semua itu tidak ada. Tidak ada yang bernama kode kehormatan, tidak ada yang dinamakan sifat kesatria. Yang ada hanyalah bunuh atau dibunuh. Tapi meskipun hal itu harus kau ingat baik-baik, aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan menjadi pembunuh 25 orang. Orang-orang yang kuat dan terhormat. Orang-orang yang melindungi kami dan memberikan kami makanan. Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi.

“Apakah kita akan dihukum Jack? Dihukum oleh tuhan diatas sana?”

“Tuhan? Menurutmu dia ada? Dalam dunia ini dimana kau membunuh atau dibunuh? Dimana setiap saat kau berdoa seharusnya kau mendapatkan kekuatan untuk kebal terhadap kematian?”
“Ya, tepat sekali.”

“Jika Tuhan memang ada, maka pria dan wanita ini tidak akan mati. Mereka masih hidup dan meneruskan cerita mereka. Mereka bisa dengan senang bercanda ria. Tapi kita, kita membuat mereka mati. Dan jika memang tuhan ada, seharunya kita sudah mati sebelum pedang ditarik. Sebelum ada niat untuk membunuh mereka, sebelum kita lahir. Tapi tetap saja, tuhan membiarkan kita membunuh mereka. Membuat darah mereka manjadi bunga yang indah.”

“Begitu ya, jadi kita mau kemana sekarang Jack?”

“Sekarang? Komandan tidak menyuruh kita untuk melakukan apapun selain membunuh orang-orang ini kan? Mungkin jika kita memalsukan kematian kita bisa kabur, atau langsung saja kabur.”

“Lebih baik kita langsung pergi saja, aku sudah muak menjadi seorang kesatria. Ini bukanlah bayanganku.”

“Bayanganmu apa? Menjadi seorang pahlawan? Hah, tidak mungkin bisa. Kecuali kau memiliki pangkat seperti komandan, yang kau impikan itu tidak akan terjadi.”
“Apa? Dunia tanpa konflik?”

“Ya.”

“Haha, kau masih muda, teruslah bermimpi. Sekarang ini yang ada hanyalah dunia penuh konflik. Dan aku ragu apakah akan selesai dengan cepat atau tidak.”

“Haah, ya sudah, sekarang mau kemana kita?”

“Bagaimana kalau kita pergi ke rumah dokter Mainfried? Dia pasti mau menerima kita dengan keadaan yang seperti ini.”

“Sepertinya asyik, ayo kalau begitu.”


Selama perjalanan aku masih tidak bisa berhenti berpikir, mengapa dunia begitu kejam? Mengapa makhluk yang orang-orang bilang paling agung dan kuat seringkali tidak membantu mereka yang membutuhkan? Apa alasannya? Supaya manusia bisa membantu diri mereka sendiri dan dengan begitu mereka terselamatkan? Ini bukan diselamatkan, tapi menyelamatkan namanya. Terkadang aku bingung apa yang mereka ingin lakukan. Apa kematian inilah yang dinamakan dosa? Lalu aku adalah malaikat yang membayar dosa itu? Atau sebenarnya apakah aku sendiri yang melakukan dosa itu? Dan mereka yang matilah bayarannya? Pertanyaan-pertanyaan ini sungguh-sungguh. Membingungkan. 

No comments:

Post a Comment