Tuesday, March 14, 2017

MP

Pernahkah merasa bahwa waktu-waktu yang ada dalam hidup kalian terasa lebih sedikit? Atau bahkan kalian tidak ingat apa yang terjadi? Mungkin itu karena kalian memang lupa saja. Tapi, dari beberapa orang mungkin hal ini terjadi karena dirinya diambil alih oleh “diri mereka yang lain”. Apa maksudnya ini? Kesurupan? Bisa jadi. Karena saat kesurupan kita memang kehilangan kontol akan diri dan lupa apa yang telah dilakukan. Tapi yang ingin aku bicarakan cukup berbeda. Jauh berbeda. Apa yang diceritakan adalah kasus mengenai kepribadian ganda.

Pernahkah kalian mendengar kasus kepribadian ganda? Untuk beberapa mungkin hal ini terdengar biasa saja, tapi cara orang menjadi seperti ini, tidak biasa. Seseorang sampai bisa mendapatkan 2 kepribadian ganda saja, sudah pasti memiliki pengalaman yang traumatis. Apalagi orang dengan 16 kepribadian yang berbeda. Entah apa yang terjadi dalam masa lalunya sampai bisa sebanyak itu.
Sekarang mungkin kalian penasaran bagaimana caranya seseorang sampai bisa menciptakan 2 atau lebih kepribadian yang berbeda? Salah satu penyebabnya bisa karena situasi yang ada tidak memperbolehkan kepribadian kalian untuk keluar. Misalnya salah satu contoh paling sederhananya ada dari artikelku sebelumnya mengenai Harute. Pilotnya adalah Allelujah Haptism. Karena dulunya dia seorang subjek penelitian yang gagal, mengharuskan dia pergi dari tempatnya, terbentuklah dirinya yang baru. Allelujah yang asalnya adalah orang pasifis, lebih pendiam, dan kurang lebih ramah. Tapi, karena situasi yang ada waktu itu membutuhkan sifat yang jauh lebih aktif/kekerasan dan ketahanan hidupnya, maka yang muncul adalah kepribadian keduanya, Hallelujah. Yang jauh lebih keras daripada dirinya. Berarti membiarkan segala apapun terjadi demi dirinya sendiri.

Ada salah satu teori yang mengatakan kalau kepribadian kedua adalah kepribadian kita yang sessunguhnya. Bahwa dari dalam diri kita yang sebenarnya, apa yang selama ini kita simpan, itulah diri kita. Tentu kalian pasti pernah berpikir kalau hal ini tidak asyik, hal ini membosankan, atau ini asyik, ini menyenangkan. Tapi itu semua pada saat-saat yang tidak tepat. Dan tentu saja sebagai manusia yang memiliki kehormatan dan harga diri, kalian menyimpan hal-hal itu. Terkadang saat kalian menyimpan hal itu, perasaan-perasaan itu masih ada di dalam diri kalian. Hanya saja kalian memutuskan untuk tidak mempedulikannya. Tapi, saat-saat tertentu, dalam keadaan tertekan atau sudah dalam penghujung tombak (berbeda dalam setiap orang), alam bawah sadar memutuskan untuk melepaskan itu semua. Bentuknya bisa bermacam-macam, ada yang mengeluarkannya dalam bentuk lukisan, dalam aksi-aksi yang bisa dibilang orang membahayakan nyawa. Atau bahkan mengambil nyawa orang itu sendiri. Hal-hal seperti ini harus dicegah dengan cara membicarakan masalah-masalah yang ada. Kemudian mencari solusinya. Tentu, terkadang hal ini hanya bisa dicari sendiri, tapi tidaklah salah mencari solusinya dengan bantuan orang lain. Karena untuk menaiki gunung, terkadang kawan adalah hal yang kita butuhkan.

Yang bisa disimpulkan adalah, memiliki banyak kepribadian itu tidak baik. Kalian tandanya menjadi seseorang yang bukan diri kalian. Tentu, terkadang kalian harus bersandiwara di hadapan orang untuk menjaga nama baik seseorang. Atau bahkan menjaga integritas kalian sendiri. Tetapi, tidak harus begitu. Jika kalian memnag tidak suka, bilang saja. Keputusan memang ada di tangan kalian, dan apapun yang terjadi bersiaplah menanggung resiko yang ada. Tapi jangan sampai kalian tidak membicarakan apa yang ada di hati kalian. Kuncinya adalah keseimbangan. Kalian harus bisa seimbang dalam mengetahui kapan harus bicara, kapan harus diam, kapan harus mendengar, dan tentu saja kapan harus mengeluarkan hati kalian. Karena pada dasarnya semua manusia memiliki dasar-dasar ini. Hanya saja mereka tidak mau mengeluarkan hal-hal ini.


No comments:

Post a Comment