Pernahkah merasa bahwa waktu-waktu yang ada dalam hidup
kalian terasa lebih sedikit? Atau bahkan kalian tidak ingat apa yang terjadi?
Mungkin itu karena kalian memang lupa saja. Tapi, dari beberapa orang mungkin
hal ini terjadi karena dirinya diambil alih oleh “diri mereka yang lain”. Apa
maksudnya ini? Kesurupan? Bisa jadi. Karena saat kesurupan kita memang
kehilangan kontol akan diri dan lupa apa yang telah dilakukan. Tapi yang ingin
aku bicarakan cukup berbeda. Jauh berbeda. Apa yang diceritakan adalah kasus
mengenai kepribadian ganda.
Pernahkah kalian mendengar kasus kepribadian ganda? Untuk
beberapa mungkin hal ini terdengar biasa saja, tapi cara orang menjadi seperti
ini, tidak biasa. Seseorang sampai bisa mendapatkan 2 kepribadian ganda saja,
sudah pasti memiliki pengalaman yang traumatis. Apalagi orang dengan 16
kepribadian yang berbeda. Entah apa yang terjadi dalam masa lalunya sampai bisa
sebanyak itu.
Sekarang mungkin kalian penasaran bagaimana caranya
seseorang sampai bisa menciptakan 2 atau lebih kepribadian yang berbeda? Salah
satu penyebabnya bisa karena situasi yang ada tidak memperbolehkan kepribadian
kalian untuk keluar. Misalnya salah satu contoh paling sederhananya ada dari
artikelku sebelumnya mengenai Harute. Pilotnya adalah Allelujah Haptism. Karena
dulunya dia seorang subjek penelitian yang gagal, mengharuskan dia pergi dari
tempatnya, terbentuklah dirinya yang baru. Allelujah yang asalnya adalah orang
pasifis, lebih pendiam, dan kurang lebih ramah. Tapi, karena situasi yang ada
waktu itu membutuhkan sifat yang jauh lebih aktif/kekerasan dan ketahanan
hidupnya, maka yang muncul adalah kepribadian keduanya, Hallelujah. Yang jauh
lebih keras daripada dirinya. Berarti membiarkan segala apapun terjadi demi
dirinya sendiri.
Ada salah satu teori yang mengatakan kalau kepribadian kedua
adalah kepribadian kita yang sessunguhnya. Bahwa dari dalam diri kita yang
sebenarnya, apa yang selama ini kita simpan, itulah diri kita. Tentu kalian
pasti pernah berpikir kalau hal ini tidak asyik, hal ini membosankan, atau ini
asyik, ini menyenangkan. Tapi itu semua pada saat-saat yang tidak tepat. Dan
tentu saja sebagai manusia yang memiliki kehormatan dan harga diri, kalian
menyimpan hal-hal itu. Terkadang saat kalian menyimpan hal itu,
perasaan-perasaan itu masih ada di dalam diri kalian. Hanya saja kalian
memutuskan untuk tidak mempedulikannya. Tapi, saat-saat tertentu, dalam keadaan
tertekan atau sudah dalam penghujung tombak (berbeda dalam setiap orang), alam
bawah sadar memutuskan untuk melepaskan itu semua. Bentuknya bisa
bermacam-macam, ada yang mengeluarkannya dalam bentuk lukisan, dalam aksi-aksi
yang bisa dibilang orang membahayakan nyawa. Atau bahkan mengambil nyawa orang
itu sendiri. Hal-hal seperti ini harus dicegah dengan cara membicarakan
masalah-masalah yang ada. Kemudian mencari solusinya. Tentu, terkadang hal ini
hanya bisa dicari sendiri, tapi tidaklah salah mencari solusinya dengan bantuan
orang lain. Karena untuk menaiki gunung, terkadang kawan adalah hal yang kita
butuhkan.
Yang bisa disimpulkan adalah, memiliki banyak kepribadian
itu tidak baik. Kalian tandanya menjadi seseorang yang bukan diri kalian.
Tentu, terkadang kalian harus bersandiwara di hadapan orang untuk menjaga nama
baik seseorang. Atau bahkan menjaga integritas kalian sendiri. Tetapi, tidak
harus begitu. Jika kalian memnag tidak suka, bilang saja. Keputusan memang ada
di tangan kalian, dan apapun yang terjadi bersiaplah menanggung resiko yang
ada. Tapi jangan sampai kalian tidak membicarakan apa yang ada di hati kalian.
Kuncinya adalah keseimbangan. Kalian harus bisa seimbang dalam mengetahui kapan
harus bicara, kapan harus diam, kapan harus mendengar, dan tentu saja kapan
harus mengeluarkan hati kalian. Karena pada dasarnya semua manusia memiliki
dasar-dasar ini. Hanya saja mereka tidak mau mengeluarkan hal-hal ini.
No comments:
Post a Comment