“Semua orang dalam perang memiliki fungsi dan perangnya
masing-masing. Ada yang bertugas membawakan senjata, yaitu Logistik, lalu ada
juga yang bertugas menyuruh sampah-sampah seperti kalian, yaitu aku, dan ada
juga yang berfungsi sebagai pelaksana, yaitu kalian. Mungkin kalian berpikir
orang brengsek macam apa yang bisa mencapai posisi ini, akan kuberi tahu orang
macam apa, aku. Kita tidak akan berhasil kalau sampah seperti kalian tidak mau
mengikuti apa yang kumau. Jadi, lakukanlah apa yang kusuruh tanpa kata-kata
lain. Tanpa tapi maupun apabila. Mengerti!”
“Jika kalian membutuhkan barang-barang, silahkan hubungi
bagian logistik. Jika kalian butuh arahan tempat, yang aku akan kaget jika
sudah kuberi tahu tapi masih belum jelas, silahkan hubungi letnan kalian.”
Keseharian ini adalah hal yang sering dialami oleh tim seksi
6. Karena sekarang negara sedang dalam keadaan damai, yang bisa dilakukan
hanyalah berlatih, berlatih, dan berlatih.
Dalam tim itu, sersan yang ingin memastikan keadaan berjalan
dengan lancar selalu menunggu anak buahnya melakukan sesuatu yang salah. Dengan
begitu ia bisa memperbaikinya. Selain itu terdapat juga orang-orang yang
tugasnya membantu sersan, masalahnya seksi 6 tidak memiliki orang-orang yang
cukup tegas saat membantu sersan. Sekalinya ada, mereka malah yang ada membuat
sersan kewalahan. Mungkin niat mereka memang membantu, tapi karena mereka ada keinginan
sendiri dan perasaan tersendiri (alias belum saling sepemahaman) jadinya ada
banyak konflik. Tapi kekurangan-kekurangan ini akan menjadi pupuk untuk selanjutnya.
Orang yang selanjutnya akan banyak pekerjaan adalah bidang logistik. Orang
Logistik pekerjaannya hanya membeli barang dan meyiapkan barang untuk tentara
mereka. Jika ada barang yang kurang, maka yang terjadi adalah kesulitan mereka
dalam menjalankan tugas. Tapi terkadang, tentara selalu meminta hal yang agak
mustahil, seperti drone antar kota. Untuk apa? Kita tidak sedang berperang dan
situasi di lapangan tidak mengharuskan kita membawa drone. Jadi untuk apa?
Motto kita adalah “adaptasi diatas segalanya”. Artinya tentu saja sudah jelas,
adaptasi.
Selama ini orang-orang selalu berpikir kalau perang hanya
dapat dimenangkan oleh orang-orang yang kuat. Tapi tidak, perang dimenangkan
oleh orang kuat, jumlah, dan tempat mereka bertarung. Itu prinsip sederhana.
Jika tempat yang ada sempit, maka lebih sedikit orang lebih efektif. Apabila
tempatnya luas, tentu saja harus menyiapkan orang lebih banyak. Hal-hal seperti
ini selalu harus dipikirkan oleh orang-orang.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan kapten?”
“Lakukan saja”.
No comments:
Post a Comment