Monday, February 13, 2017

Log

Minggu ini, kelompok petualang besar pulang dari Nuart[e]. Galeri milik seorang seniman bernama Nyoman Nuarte. Di tempat ini kita mendatangi sebuah seminar bernama Sarasehan: “Nilai-nilai tradisi dalam seni rupa kontemporer”. Dalam namanya saja sudah dapat disimpulkan bahwa pertemuan ini tentang nilai tradisi. Nilai tradisi apa yang bisa ditemukan dalam seni kontemporer dan nilainya. Nilai dari seni tradisi. Karena, jika kita melihat seni rupa kontemporer dari barat, yang dilihat adalah sisi dari artistik dan tentu saja makna yang ada. Biasanya lebih mudah terlihat daripada seni tradisional kita.

Jika kita membandingkan karya patung milik Auguste Rodin dengan karya pewayangan pasti sangat jauh bedanya. Misalnya saja dari karyanya yang terkenal, the thinker. The Thinker yang berada di gerbang neraka. The Thinker memiliki banyak sekali interpretasi, tapi yang menurutku menarik adalah dia itu seorang pria yang memikirkan segalanya di gerbang neraka. Biasanya patung ini dibuat untuk melambangkan filosofi. Badannya yang telanjang dapat melambangkan puisi dan posisinya melambangkan orang yang pintar. Walaupun menurutku dia seperti orang yang memikirkan semua perbuatan masa lalu. Tapi, dari contoh ini kita bisa tahu apa bedanya. Dimana? Tentu saja dalam bentuknya. Kebanyakan wayang bentuknya datar, 2 dimensi tapi bisa dilihat dari 2 sisi. Sisi pertama apabila dimainkan memperlihatkan dia datang dari kanan, seorang pahlawan. Seperti misalnya saja Yudisthira yang baik. Dia adalah orang yang sangat suci saking sucinya darahnya berwarna putih, tapi apa benar dia orang yang sangat suci? Yudisthira terkenal menyukai judi (bukan perbuatan suci) dan perang Baratayuda diakibatkan olehnya. Dia memakai istrinya, Drupadi sebagai bentuk pembayaran. Tentu saja dia kalah dan istrinya menjadi milik Kurawa. Walaupun akhirnya Drupadi dengan sumpahnya akan mandi darah Kurawa. Hardcore. Tapi, dari sini kita bisa melihat Yudisthira dari 2 sisi, baik dan buruk. Dari kanan dan kiri, dualisme manusia. Bukan berarti karya 3d Rodin tidak menjelaskan, tapi mungkin jika digali maknanya tidak sesulit wayang.

Lalu pada hari jumat kita hanya melakukan kegiatan biasa, berdiskusi untuk minggu depan.
Pada hari Senin, disini semuanya menarik. Karena di hari ini, kita bermula di Bagus Rangin dan berakhir di Bagus Rangin. Disini kita hanya belajar tentang matematika dan ada yang ipa juga. Ada yang memilih untuk membaca buku. Kebanyakan teman-teman yang berada di Bagus Rangin terlihat ingin segera menyelesaikan hari itu, walaupun ada juga yang tertarik dan diam lebih lama. Meskipun sangat langka. Tapi, semuanya terlihat bahagia.

Pada hari selasa, dimulailah minggu penuh kegiatan, hari itu dimulai dari taman Film. Dimana kita mencoba untuk berlatih drama di depan umum. Memang, butuh matinya urat malu supaya bisa, dan kita semua bisa. Bersama Kak Nura kita belajar drama dan tarian. Apakah sulit? Tanyakan sendiri kepada kita di KPB SMIPA, dimana malu tidak ada dan keberanian untuk berbicara kepada orang umum itu nomor satu. Kembali lagi, siangnya basecamp Smipa adalah tempat kami selanjutnya. Disana kita akan berlatih Yoga. Betul kawanku, Yoga. Senam legendaris milik India yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Yoga ini memang salah satu kelas paling sulit milik KPB dan guru yoga kita, Ibu Yuli. Julie? Juli? Pasti salah satu dari itu. Kelas ini berlangsung selama (kita tidak sadar) 2 jam. Betul, 2 jam lamanya atau kita persiapannya yang lama. Banyak sekali efek yang kita dapatkan dari Yoga, karena ternyata manfaatnya tidak hanya satu, tapi ratusan ribu.

Sekarang kita sampai di hari Rabu, hari yang betul-betul indah. Karena kita kedatangan tamu dari Australisa bernama kak Nico. Dia adalah seorang doktor dalam bidang mikrobiologi dan teman dari Deddy Corbuzier. Disana dia menceritakan tentang pentingnya membuat sistem ketahanan pangan di Indnesia, disana dia bercerita panjang lebar mengenai sistem sawah yang ia miliki. Disana dia membuat sistem yang mirip dengan sistem pertanian berlanjut. Atau mungkin sama. Intinya adalah mengembalikan fungsi alam kepada sawah. Karena pada dasarnya juga, kita hanya memanfaatkan tanah yang ada dengan merusaknya. Dalam ceritanya yang betul-betul kaya pengathuan, hal itu mengunggah hati kita semua. Keinginan untuk mengubah cara pandang kita dan jalan hidup kita. Setidaknya itu membuat saya menjadi ingin bercocok tanam. Memang, sistem yang ia kembangkan lebih mahal daripada sistem lainnya, tapi bisa jadi itu lebih menguntungkan daripada sistem yang menggunakkan zat-zat kimia.

Itu saja untuk petualangan kita minggu ini, kali ini kau sudah membaca laporan minggu ini.

Terima kasih


Tim penulis Blog.

No comments:

Post a Comment