Dalam hidupnya yang sekarat seorang pria datang ke sebuah tempat.
Tempat itu tidak terlalu besar maupun kecil. Cahaya yang ada agak redup tapi
tidak terlalu gelap. Terdapat banyak tanaman disana yang warnanya hanya hijau,
tiada bunga maupun buah. hanya dedaunan. Dan diujung tempat itu ada seorang
lelaki duduk melihat ke angkasa. Setelah beberapa saat ia memperhatikan
pria yang sekarat ini. Dia kemudian mengajaknya duduk disebelahnya.
Setelah pria yang sekarat itu duduk baru dia bertanya
“Mengapa kau bisa ada disini? Kau sekarang bisa saja berjalan
bersama kekasihmu di pantai. Atau bahkan bermain bersama kawan-kawanmu. Tapi
kau disini. Apa yang membuatmu disini?”
“Aku disini karena negaraku. Kami berperang karena negara kita
memiliki sistem yang sangat bagus. Kita bisa membawa negara lain sepeti kita
juga, jadi mengapa tidak?”
“Kenapa? Kenapa kau memaksakan kehendakmu kepada orang lain? Tidak
bisakah kalian saling memahami satu sama lain? Tidak pernahkah kau berpikir
kalau negara lain hanya ingin menjalankan kehidupan mereka?”
“Itulah yang ingin kita lakukan, menyamakan pendapat. Menyamakan
kedudukan. Menyamakan perasaan. Dengan begitu kita sebagai manusia baru bisa
hidup berdampingan. Mungkin kita memiliki ego masing-masing. Tapi perang ini
akan menghilangkan ego itu. Dengan hilangnya ego dan keinginan barulah dunia
penuh persatuan bisa ada.”
“Kau tidak mengerti ya fungsi dari ego dan keinginan kalian? Ego
ada supaya manusia bisa mengendalikan diri mereka, sebagai bentuk kebebasan,
keinginan juga. Tapi dengan hilangnya hal itu maka artinya kalian hidup dalam
penjara.”
“Tapi, demi persatuan seluruh umat manusia maka aku rela
memberikan ego dan keinginan milikku.”
“Ya sudahlah, aku disini hanya ingin menanyakan alasanmu mati. Kau
tahu kan kalau tempat ini adalah akhir hidupmu?”
“Ya, yang ingin aku tanyakan adalah apa bisa aku hidup kembali dan
berjuang?”
“Bisa, bagaimanapun juga ini hanya akhir hidupmu yang sekarang,
nanti siapa yang tahu?”
Dan pada akhir kalimat itu pria yang sekarat langsung menghilang.
“Ternyata seorang tentara di medan perang
berfungsi sebagai lebah saja ya. Sekarang apa yang terjadi apabila aku bertanya
kepada seorang samurai?”
Pada malam hari yang dingin, disana seorang samurai berdiri dan
berjalan menuju obor. Dari obor itu datanglah seorang pria dengan rambut putih
dan topeng Tengu. Dia menghampiri samurai itu dan bertanya
“Kau tahu ada dimana?”
“Tidak, tapi aku kedinginan dan untungnya ada obor ini. Kau
mengapa ada disini?”
“Aku hanya tiba-tiba lewat dan bertemu denganmu, jadi apa alasanmu
untuk hidup?”
“Aku, haha mungkin untuk bertarung? Dari kecil yang kutahu
hanyalah bertarung. Ayahku seorang Samurai dan seumur hidupku aku berusaha melewatinya.
Sampai pada umurku yang 20 aku berhasil melewatinya.”
“Dan tujuanmu dalam hidup ini apa?”
“Mencari lawan terkuat dan kalau bisa ya menyatukan seluruh
negeri.”
“Lalu jika kau kalah bagaimana?”
“Lebih baik aku mati mencoba daripada hidup menanggung malu yang
ada.”
“Benarkah itu yang kau mau? Kau berani mati memegang keyakinan
milikmu sampai mati. Tidak sedikitpun kau ingin hidup?”
“Hidup dalam rasa malu? Siapa yang ingin. Aku ingin mati dengan
penuh hormat. Tidak peduli apa yang terjadi pada tubuhku selanjutnya, toh aku
sudah mati ini. Lebih baik jika kau ingin mencari orang yang tepat, jangan
pernah incar samurai. Mereka tidak akan pernah membuang keyakinan mereka.”
“Menarik.”
No comments:
Post a Comment