Setiap hari kita selalu melihat dunia. Bagi yang tidak bisa
melihat, mungkin mereka bisa merasakan dan mendengar bagaimana dunia
sessunguhnya. Pernahkah kita misalnya melihat ada seorang lelaki atau wanita
yang baru saja jatuh dari kendaraan dan ia meminta pertolongan? Pernahkah
kalian merasa kalau seharusnya kalian membantu orang itu, bukannya hanya duduk
diam dan melihat saja? Atau mungkin yang terjadi adalah kalian sedang
menghabiskan waktu kalian di internet dan bukannya mengerjakan pekerjaan
kalian? Mungkin yang itu lebih sering dan hasilnya apa yang terjadi? Kita semua
harus mengerjakan tugas tambahan yang asalnya karena kita tidak mengerjakan
tadi.
Nah, sekarang setelah merasakan hal-hal yang serupa atau
mungkin sama dengan diatas kalian pastinya merasa menyesal, jika tidak mungkin
ada hal yang salah dengan kepala kalian. Dan, terkadang penyesalan bisa
benar-benar mematikan, karena aku sendiri merasakan kalau penyesalan itu dapat
membuat pisau yang sangat tajam menjadi terlihat tumpul. Membuat atap setinggi
6 meter menjadi 3 meter. Dan, aku hampir sekali pergi ke sisi itu, tapi
untungnya tidak. Karena aku adalah orang yang ingin memberitahu kalian kalau
penyesalan itu tidak apa=apa, malah sebenarnya penting.
Kita mulai dulu dari kata-kata “No Ragrets”. Atau lebih
tepatnya, hidup tanpa penyesalan. Terkadang kita mengatakan hal ini untuk
berkata kepada diri sendiri kalau hal yang akan kita lakukan
"No Ragrets"
selanjutnya tidak
akan menghasilkan konsekuensi yang sangat besar, atau dalam bahasa lainnya kita
berani bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi selanjutanya. Biasanya kita
mengatakan hal ini apabila bertemu dengan teman-teman kita dan hendaknya
melakukan hal bodoh. Tapi, yang terjadi setelahnya kita (contohnya saja kau
merasa kalau bisa melompat dari ketinggian 4 meter dan selamat. Kenyataannya
kau patah tulang) menyesali perbuatan itu. Penyesalan tidak harus datang dari
kita melakukan sesuatu. Salah satunya bisa datang dari misalnya saja kita tidak
melakukan yang dapat membuat orang senang. Misalnya mengatakan kepada ibumu
bahwa kau mencintai ibumu, mengatakan kepadanya terima kasih, dan mencintainya.
Terkadang hal-hal itu tidak tersampaikan dan pada akhirnya saat dia telah tiada
kau menyesal tidak pernah mengatakan hal itu. Tapi mengapa kita menyesali
hal-hal itu? Jawabannya adalah karena memang harusnya kita memiliki hal itu,
memiliki suatu cara supaya kita dapat berevolusi lebih lanjut.
Jadi, dalam bacaan-bacaan yang aku lihat tadi, kebanyakan
grup yang memiliki tingkat penyesalan yang sangat tinggi adalah orang tua yang
depresi. Ya, orangtua yang depresi biasanya memiliki penyesalan yang sangat
banyak karena mereka tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Tidak
melakukan investasi, melewatkan kesempatan karir, dan masih banyak lagi. Dan
ini sangat berpengaruh kepada cara mereka memandang dunia. Dalam suatu
eksperimen, para manula dan pemuda dibawa kedalam sebuah tes. Mereka diajak
untuk memainkan permainan dimana jika mereka membuka kartu, apabila sama mereka
akan mendapatkan skor, sedangkan apabila kartu yang terbuka adalah kartu iblis,
maka mereka akan kalah dan semua skor yang ada hilang. Terbagi menjadi 3 grup,
manula yang tidak depresi, manula yang depresi, dan pemuda saja. Hasil tes
adalah, saat mereka semua mendaptkan kartu iblis, manula yang bahagia berlanjut
dengan strategi yang sama, sedangkan pemuda dan manula yang depresi mulai
kehilangan strategi mereka dan mencoba segala cara yang mereka anggap mungkin
bisa menang. Lebih tepatnya menembak dalam ruangan gelap. Dan yang terjadi
adalah, grup manula bahagia mendapatkan skor lebih tinggi daripada grup
lainnya.
Selain itu, apa sebenarnya yang terjadi saat kita menyesal?
Apa yang terjadi di kepala kita sehingga terjadi rasa penyesalan? Saat terjadi
penyesalan, ada area di otak yang bernama Anterior
Cingulate Cortex. Dimana fungsinta adalah mengontrol pelonjakan emosi. Dan
saat kita memiliki penyesalan yang tinggi, otak kita menyalakan bagian ini
dengan tingkat yang lumayan tinggi. Selain area ini, ada pengurangan di area Ventral Striatum. Atau area otak yang
memproses sistem hadiah. Yang artinya kita sudah tidak mengharapkan apa-apa.
Ini menjelaskan mengapa saat menyesal kita merasa hampa. Hal itu karena kita
sudah tidak memiliki tujuan apapun lagi.
Saat menyesal yang ada pasti kita ingin segera pergi dari
tempat itu dan kembali menjadi manusia biasa. Nah, bagaimana caranya? Yang
pertama adalah:
1. Lepaskan saja. Jika situasi itu tidak bisa kita ubah,
lebih baik biarkan saja.
2. Ingat kenapa kamu menyesal, jika kamu tahu kenapa kamu
menyesal, tandanya kamu tahu
salahnya dimana. Dan kamu tahu apa yang harus diperbaiki
selanjutnya.
3. Saat melihat penyesalan, lihatlah kesempatan. Ini salah
satu tips cara orang sukses bisa menjadi sukses. Saat mereka melakukan kesalah,
mereka tentu saja menyesal, tapi apa yang mau mereka lakukan selanjutnya? Hal
itu adalah yang paling penting. Melanjutkan hidup.
Manusia pastinya telah melakukan kesalahan sebelumnya dan
kita adalah makhluk yang dirumorkan memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri
kita sendiri. Fungsinya adalah cara untuk bertahan hidup. Misalnya saja, saat
kita tengah di hutan dan kita lupa membawa makanan, yang ada kita pasti
menyesal mengapa tidak membawa makanan dan hanya menyusahkan diri sendiri. Lalu
apa yang kita lakukan? Kita tentu saja memperbaiki atau mencoba untuk
memperbaiki. Seperti membawa makanan selanjutnya, atau mempersiapkan makanan
dari hari-hari sebelumnya. Selain itu fungsinya memang betul seperti kata
orang-orang, kita menjadi melihat ke depan dan ingat bahwa masa lalu adalah
kanvas yang sudah jadi, kita tidak dapat mengubahnya menjadi lebih baik lagi,
sedangkan masa depan, semuanya masih tidak pasti. Sekarang apa yang kau
inginkan? Apakah kau ingin terjebak dalam masa lalu atau kau ingin maju ke depan?

No comments:
Post a Comment