“F, menurutmu apa menurutmu orang-orang saat ini sombong?”
“Maksud kau apa? Mereka menyombongkan kekayaan mereka? Atau
mereka berteriak kepunyaan mereka?”
“Bukan, bukan itu. Maksudku apakah mereka tidak peduli
dengan yang lain? Dengan orang lain atau dunia yang mereka injak? Kalau aku
melihatnya selama ini mereka terlalu peduli dengan diri mereka sendiri. Tidak
peduli dengan apapun selain mereka. Apa kau melihat itu sebagai suatu
kewajaran?”
“Tidak, memang menurutku ini adalah suatu kesalahan. Tidak
boleh ada orang yang melupakan darimana mereka berasal, tapi apakah kita
memiliki hak untuk mengingatkan mereka? Karena bagaimanapun juga kita bekerja
di perusahaan bumi, dimana sebenarnya kita menghancurkan bumi, bukannya
menyelamatkan bumi.”
“Betul juga, mau kau keluar bersamaku dari perusahaan ini?
Mencoba membuat manusia ingat kembali dimana mereka tinggal?”
“Baiklah, ayo kita lakukan, lagipula aku tidak suka juga
dengan tempat ini.”
Dan begitulah, aku dan F pergi dari perusahaan itu. Berasal
dari 1 gagasan sederhana untuk mengingatkan manusia dimana mereka tinggal. Dari
ide sederhana saja, aku pergi meninggalkan bumi. Kami pergi menuju Mars, dimana
mereka bilang kesempatan berada. Disana masih kosong, tapi menurutku itulah
tanah peluang.
Selama 3 tahun aku dan F bekerja dengan keras mencari cara
untuk memberitahu manusia kalau Bumi itu snagat indah dan harus dilindungi.
Mungkin Mars memang pilihan kedua, Koloni-koloni juga mungkin solusi yang
tepat. Tapi darimana semua udara itu datang? Darimana asal air itu? Semuanya
dari Bumi.
3 tahun itu hanya dihabiskan
mencari sumber daya dan tenaga kerja untuk membantu proyek kita. Kebanyakan
dari mereka sama seperti kamu, pionir. Untung saja semuanya memiliki pandangan yang
mirip, mereka ingin mengubah pandangan manusia terhadap bumi. Dan bagaimana
cara kami memperlihatkannya? Dengan membuat mereka melihat diri mereka sendiri.
Setiap hari kelompok Belajar 7 berjalan berkeliling kota mencari
ilmu. Metode yang dimiliki mereka memang eksperimental, tidak ada ruangan
tertutup untuk mempelajari ilmu, yang ada hanyalah dunia ini sebagai tempat
untuk belajar. Meskipun begitu, masih saja mereka tidak memperhatikan keadaan
sekitar, mungkin memperhatikan, tapi apakah mereka mengerti? Apakah mereka
peduli? Ratusan jam mereka habiskan untuk mengetahui fakta-fakta tentang Bumi
yang indah, tapi kebanyakan hanya terbuang menjadi sisa pikiran saja. Mereka
dibawa untuk membuka mata mereka kemanapun, ke dalam diri, luar dunia, yang
lebih tinggi, yang lebih rendah, semuanya dicoba. Tapi, mereka tidak melakukan
apapun dengan informasi itu. Kebanyakan hanya menjadi informasi yang lewat saja.
Memang sulit, melakukan yang harus kau lakukan sembari melakukan yang kau suka.
Terkadang hal itu malah dapat dibilang mustahil. Karena itulah selama ini
mereka akan mencoba melakukan hal yang mustahil, yang disukai dan yang tidak
disukai sama-sama dilakukan.
Kali ini, perjalanan mereka membawa ke tempat dimana jawaban
berada, sekaligus pertanyaan berasal. Dimana jawaban adalah pertanyaan dan
pertanyaan adalah jawaban.
Mereka disana diberikan pencerahan mengenai apa itu dunia
dan dunia itu apa (Ternyata 2 hal itu berbeda). Nama dari tempat itu adalah
Urgu. Mereka bertemu orang tua yang sungguh brilian. Dia sudah hidup sebelum
zaman penyamaan nama. Jadi, namanya masih lengkap, yaitu Sofo Manka. Dia adalah
orang yang benar-benar bijak. Senang sekali berbagi ilmunya, tapi juga senang
menjawab pertanyaan mereka. Dengan semangatnya dia jelaskan apa yang dimaksud
dengan dasar-dasar Urgu, apa itu sebenarnya Urgu, mengapa Urgu penting. Karena
pada dasarnya, Urgu adalah diri kita semua, tanpa Urgu, tiada pertanyaan dapat
dijawab.
Sesi itu berlangsung sangat lama, tidak terasa waktupun
memberitahu mereka kalau sudah saatnya kembali kawan. Jadi, mereka pun kembali
kedalam kehidupan mereka yang sesungguhnya masing-masing. Sendirian.
Dalam perjalanan setiap orang berpikir apa yang sebenarnya
akan terjadi, apa yang mereka lihat benar, apa itu jujur, apa itu dunia. Dan
tentu saja mengapa semuanya salah.
Pada sore hari dimana semuanya telah usai, di langit, di
langit yang masih berisi awan terlihat benda raksasa. Terlihat benda raksasa.
Mereka melihat bumi. Tapi bukan sembarang bumi, bumi mereka sendirilah yang
sedang dilihat. Bumi yang mereka pijaki. Bumi ini dari atas terlihat begitu
biru, begitu indah, dan begitu besar. Kehidupan mereka yang sungguh kecil tidak
berarti apapun bagi bumi yang raksasa ini. Kematian kita hanya membawa dampak
yang baik bagi bumi, sedangkan kehidupan kita yang ada malah memberikan
kesengsaraan baik untuk kita maupun bumi ini. Lantas apa tujuan kita?
Note: Video yang ada berasal dari channel Vsauce di youtube, yang kemudian diedit oleh orang lain supaya hanya bagian ini yang terlihat, mungkin sebagai bentuk visual dari apa yang kumaksud. Cara paling enak menikmatinya adalah dengan dimatikan musiknya atau ganti saja dengan musik yang kalian rasa enak.
No comments:
Post a Comment