Wednesday, January 25, 2017

Legilis

“F, menurutmu apa menurutmu orang-orang saat ini sombong?”
“Maksud kau apa? Mereka menyombongkan kekayaan mereka? Atau mereka berteriak kepunyaan mereka?”

“Bukan, bukan itu. Maksudku apakah mereka tidak peduli dengan yang lain? Dengan orang lain atau dunia yang mereka injak? Kalau aku melihatnya selama ini mereka terlalu peduli dengan diri mereka sendiri. Tidak peduli dengan apapun selain mereka. Apa kau melihat itu sebagai suatu kewajaran?”
“Tidak, memang menurutku ini adalah suatu kesalahan. Tidak boleh ada orang yang melupakan darimana mereka berasal, tapi apakah kita memiliki hak untuk mengingatkan mereka? Karena bagaimanapun juga kita bekerja di perusahaan bumi, dimana sebenarnya kita menghancurkan bumi, bukannya menyelamatkan bumi.”

“Betul juga, mau kau keluar bersamaku dari perusahaan ini? Mencoba membuat manusia ingat kembali dimana mereka tinggal?”

“Baiklah, ayo kita lakukan, lagipula aku tidak suka juga dengan tempat ini.”

Dan begitulah, aku dan F pergi dari perusahaan itu. Berasal dari 1 gagasan sederhana untuk mengingatkan manusia dimana mereka tinggal. Dari ide sederhana saja, aku pergi meninggalkan bumi. Kami pergi menuju Mars, dimana mereka bilang kesempatan berada. Disana masih kosong, tapi menurutku itulah tanah peluang.

Selama 3 tahun aku dan F bekerja dengan keras mencari cara untuk memberitahu manusia kalau Bumi itu snagat indah dan harus dilindungi. Mungkin Mars memang pilihan kedua, Koloni-koloni juga mungkin solusi yang tepat. Tapi darimana semua udara itu datang? Darimana asal air itu? Semuanya dari Bumi.

3 tahun itu hanya dihabiskan mencari sumber daya dan tenaga kerja untuk membantu proyek kita. Kebanyakan dari mereka sama seperti kamu, pionir. Untung saja semuanya memiliki pandangan yang mirip, mereka ingin mengubah pandangan manusia terhadap bumi. Dan bagaimana cara kami memperlihatkannya? Dengan membuat mereka melihat diri mereka sendiri.


Setiap hari kelompok Belajar 7 berjalan berkeliling kota mencari ilmu. Metode yang dimiliki mereka memang eksperimental, tidak ada ruangan tertutup untuk mempelajari ilmu, yang ada hanyalah dunia ini sebagai tempat untuk belajar. Meskipun begitu, masih saja mereka tidak memperhatikan keadaan sekitar, mungkin memperhatikan, tapi apakah mereka mengerti? Apakah mereka peduli? Ratusan jam mereka habiskan untuk mengetahui fakta-fakta tentang Bumi yang indah, tapi kebanyakan hanya terbuang menjadi sisa pikiran saja. Mereka dibawa untuk membuka mata mereka kemanapun, ke dalam diri, luar dunia, yang lebih tinggi, yang lebih rendah, semuanya dicoba. Tapi, mereka tidak melakukan apapun dengan informasi itu. Kebanyakan hanya menjadi informasi yang lewat saja. Memang sulit, melakukan yang harus kau lakukan sembari melakukan yang kau suka. Terkadang hal itu malah dapat dibilang mustahil. Karena itulah selama ini mereka akan mencoba melakukan hal yang mustahil, yang disukai dan yang tidak disukai sama-sama dilakukan.

Kali ini, perjalanan mereka membawa ke tempat dimana jawaban berada, sekaligus pertanyaan berasal. Dimana jawaban adalah pertanyaan dan pertanyaan adalah jawaban.

Mereka disana diberikan pencerahan mengenai apa itu dunia dan dunia itu apa (Ternyata 2 hal itu berbeda). Nama dari tempat itu adalah Urgu. Mereka bertemu orang tua yang sungguh brilian. Dia sudah hidup sebelum zaman penyamaan nama. Jadi, namanya masih lengkap, yaitu Sofo Manka. Dia adalah orang yang benar-benar bijak. Senang sekali berbagi ilmunya, tapi juga senang menjawab pertanyaan mereka. Dengan semangatnya dia jelaskan apa yang dimaksud dengan dasar-dasar Urgu, apa itu sebenarnya Urgu, mengapa Urgu penting. Karena pada dasarnya, Urgu adalah diri kita semua, tanpa Urgu, tiada pertanyaan dapat dijawab.

Sesi itu berlangsung sangat lama, tidak terasa waktupun memberitahu mereka kalau sudah saatnya kembali kawan. Jadi, mereka pun kembali kedalam kehidupan mereka yang sesungguhnya masing-masing. Sendirian.

Dalam perjalanan setiap orang berpikir apa yang sebenarnya akan terjadi, apa yang mereka lihat benar, apa itu jujur, apa itu dunia. Dan tentu saja mengapa semuanya salah.

Pada sore hari dimana semuanya telah usai, di langit, di langit yang masih berisi awan terlihat benda raksasa. Terlihat benda raksasa. Mereka melihat bumi. Tapi bukan sembarang bumi, bumi mereka sendirilah yang sedang dilihat. Bumi yang mereka pijaki. Bumi ini dari atas terlihat begitu biru, begitu indah, dan begitu besar. Kehidupan mereka yang sungguh kecil tidak berarti apapun bagi bumi yang raksasa ini. Kematian kita hanya membawa dampak yang baik bagi bumi, sedangkan kehidupan kita yang ada malah memberikan kesengsaraan baik untuk kita maupun bumi ini. Lantas apa tujuan kita?





Note: Video yang ada berasal dari channel Vsauce di youtube, yang kemudian diedit oleh orang lain supaya hanya bagian ini yang terlihat, mungkin sebagai bentuk visual dari apa yang kumaksud. Cara paling enak menikmatinya adalah dengan dimatikan musiknya atau ganti saja dengan musik yang kalian rasa enak.


No comments:

Post a Comment