Jadi pada hari selasa, aku merasakan rasa takut. Rasa takut
yang mungkin sudah pernah dialami semua orang, rasa takut untuk mati. Kemudian
dulu aku pernah merasakan rasa takut yang jika dipikir-pikir lagi, sekarang
rasa takut itu sangatlah bodoh, yaitu takut untuk berbicara dengan wanita. Ya,
jujur saja aku terkadang masih memiliki masalah dalam berbicara kepada wanita.
Tapi, pertanyaannya adalah mengapa kita bisa takut kepada hal? Mengapa rasa
takut itu ada? Mengapa kita merasa resah ketika takut?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, aku mencoba
mencari jawabannya di dunia besar kita. Internet. Disana aku menemukan banyak
sekali jawaban mengenai mengapa kita takut, apa fungsi dari rasa takut, dan apa
saja yang terjadi saat kita takut.
Salah satu jawaban yang paling kusukai berasal dari Karen
Walker, dia bilang kalau rasa takut itu berguna untuk kita memprediksi apa yang
kira-kira akan terjadi selanjutnya. Dan, berdasarkan pengalamanku sendiri, itu
benar. Aku pernah beberapa kali berpikir sepertinya aku akan gagal besar dalam
acara ini, atau aku sepertinya tidak akan pernah berhasil berbicara di depan
umum. Dan ternyata itu terjadi.
Jadi, bagaimana rasa takut bisa terjadi?
Pada dasarnya, rasa takut berasal dan terjadi dari
pengalaman atau kejadian yang tidak ketahui. Atau mungkin bahkan pernah kita
rasakan sebelumnya yang memiliki pengaruh buruk. Selain itu, rasa takut
ternyata bisa berasal dari tingkat genetis. Kita lebih mudah takut terhadap
ular daripada kita takut terhadap deodoran. Mungkin Ular itu tidak pernah
melakukan apapun terhadap kita, tapi karena dari zaman leluhur kita, ular
pernah membuat banyak kematian kepada manusia, maka rasa takut ini ditanam.
Tapi, ini tidak selalu terjadi. Terkadang di beberapa daerah (contoh) India,
mereka tidak takut terhadap ular. Mengapa? Ternyata leluhur mereka dari dulu
bisa mengendalikan ular. Jadi, bisa dibilang rasa takut itu diturunkan dan
tergantung daerahnya saja.
Rasa takut setelah diteliti ternyata kebanyakan berasal dari daerah depan otak kita. Jika kita kehilangan bagian itu, maka kita tidak akan merasakan takut lagi, tapi juga kita tidak akan mengingat banyak hal lagi.
Aku juga menonton sebuah acara dari Jia Jiang tentang
pengalamannya yang berisi penolakan selama 100 hari. Jadi, selama 100 hari dia
harus mencari penolakan dari orang manapun. Maka, yang ia rencanakan adalah
cara supaya orang mau menolak dia. Salah satunya adalah meminta uang 100 dolar
kepada orang asing. Saat ditanya mengapa dia ingin meminta 100 dolar, respons
utamanya adalah lari. Ini juga salah satu perilaku yang unik, yaitu lari. Kita
lari saat kita ingin mengejar sesuatu atau saat kita ingin kabur dari suatu
kejadian. Dalam kasus ini, saat ditanya kenapa dia meminta uang 100 dolar.
Dalam kondisi ini, badan kita secara insting langsung memiliki kondisi pilihan,
yaitu melawan atau kabur. Dan seringkali dalam kasusku, aku memilih kabur. Saat
kabur, tentu saja kita menghilangkan kesempatan atau keterkaitan apapun
terhadap suatu kejadian. Tapi, saat kita melawan kita bisa mendapatkan 2 ujung,
yaitu menang atau kalah.
1 lagi cerita menarik yang kudapat berasal dari Karen
Walker. Dia bercerita tentang kapa Sussex yang berlayar. Mereka diserang oleh
sekawanan paus sperma dan harus segera berlabuh. Ada 2 kemungkinan tempat
mereka berlabuh, yaitu 1 di pulau yang dekat namun dikatakan berisi orang
kanibal, atau 1 lagi pergi ke Amerika selatan yang lebih jauh. Karena mereka
benar-benar takut dengan orang-orang kanibal itu, akhirnya mereka berlayar
menuju Amerika selatan. Dalam perjalanan mereka, akhirnya makanan mulai habis
dan pada akhirnya beberapa mulai menghabisi kawan-kawannya. Saat ditemukan
hanya tinggal setengah kru lagi. Setelah diteliti jalur mereka, ternyata jika
pergi menuju pulau yang dikira kanibal itu, mereka akan tiba di Tahiti.
Jika melihat dari hasil yang seperti ini, rasa takut mungkin
lebih tepat dibilang sebagai rasa yang menahan kita. Tapi bukan. Sama seperti
semua perasaan yang ada, rasa takut di desain untuk kita bisa bertahan hidup.
Tanpa rasa takut kita mungkin akan berjalan tanpa melihat kanan dan kiri jalan.
Kita mungkin berjalan di pinggir jurang, walaupun kita tahu jurang itu dalamnya
lebih dari 100 meter. Beberapa dari kalian melihatnya sebagai hal yang mungkin
positif, seperti “tanpa rasa takut aku bisa mengajak dia pergi” atau “Tanpa
rasa takut aku bisa menjadi tentara yang lebih efektif”. Tidak, tidak bisa
seperti ini.
Rasa takut memang akan membelenggu kita, tapi bagaimana cara
kita melepaskan diri dari rantai takut ini? Ada beberapa cara, yaitu:
1. Cari orang yang lebih tahu atau setidaknya tidak takut
pada hal itu. Dengan begitu, kau bisa melihat bagaimana cara mereka
menyelesaikan masalah itu dan nantinya kau sendiri bisa melakukannya.
2. Jangan terlalu dibesarkan, jika kau melihat akibat atau
dampak yang akan terjadi, maka kau akan terbelenggu selamanya. Jadi, cara yang
tepat adalah bagaimaan mengatasi situasu ini tahap-demi-tahap. Dengan begitu
kau bisa tahu apa yang harus dilakukan tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi
selanjutnya. Karena apa yang akan terjadi bukan berada di kendali kita maupun
orang lain. Mengalir begitu saja.
3. Rasa takut itu kebanyakan hanya ilusi dan yang ada hanya
menghambat kita. Jadi, salah satu jalan yang paling tepat adalah berpikir
realistis. Walaupun iya kamu sedang berada dalam titik paling menakutkan.
Misalnya terjebak dalam hutan. Kau harus bisa berpikir realistis, kenali
lingkungan sekitar dan coba amati apa bahaya yang bisa ada. Kemungkinan kebanyakan
bahaya berasal dari diri kamu sendiri, jadi coba lihat dengan benar dan
adaptasi.
4. Ingat juga kalau kamu tidak akan bisa kabur dari rasa
takut, yang harus dilakukan bukanlah mengeliminasi rasa takut, tapi coba pahami
dan lewati rasa takut itu. Rasa takut akan tertabrak di jalan itu pasti ada,
tapi bagaimana cara kita mengatasinya itu lebih penting.
Rasa takut akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang.
Kita bisa meminta bantuan orang, pergi dari rasa takut itu, atau bahkan mencoba
melawannya. Tapi kau harus ingat selalu, rasa takut ada untuk membantumu,
walaupun rasanya tidak enak kita harus menerimanya. Karena bagaimanapun juga,
tanpa rasa takut kita tidak bisa berdiri di tempat ini.
Dan dalam pencarianku mencari apa itu rasa takut, aku menemukan sebuah peta kesadaran manusia. Peta ini dibuat oleh David R.Hawkins. Seorang Filusuf dari Amerika Serikat. Dia bercerita bagaimana manusia bisa berkembang dan tahapan-tahapan yang ada dalam kesadaran manusia. Intinya adalah melihat diri kita sudah sejauh apa kita maju. Jika kalian tertarik dengan hal itu, linknya ada dibawah beserta penjelasan.
David R.Hawkins map






