Thursday, December 1, 2016

Hidimbi


Aku sudah bertahun-tahun pergi mencari dewa itu. Dewa kematian yang orang sebut. Dia membawa kematian dari langit dan tiba-tiba pergi. Aku pernah melihat sentuhannya, dan sentuhannya benar-benar kuat. Ia menghancurkan semua yang ada, sentuhannya membakar segalanya. Cahaya emasnya membakar semuanya. Tidak ada yang selamat dari serangannya. Karena dia telah mengambil semuanya.

Dan sekarang aku disini, di makamnya untuk membangunkannya kembali. Untuk membangunkan kembali kematian yang dikunci.

Seluruh tempat ini benar-benar dikunci. Dia menutup dirinya didalam tempat ini. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah Andrista menguncinya karena kekuatannya yang besar? Apakah Andrista menghancurkannya karena potensi yang ia miliki? Karena dengan kekuatannya, seluruh dunia setelah kedatangannya tiba-tiba menjadi damai. Dalam 4 tahun kedamaian itu, tidak ada perang, kelaparan, keserakahan manusia, dan semuanya menjadi seperti apa yang kita inginkan. Tapi, itu hanya berlangsung selama 4 tahun. Kemudian, selama 40 tahun, kembali lagi perang dan keserakahan. Apa yang membuat orang-orang tetap damai adalah rasa takut. Mereka takut akan kekuatannya dan karena itulah mereka patuh. Tapi, seiring kepergian dia, keserakahan kembali datang. Mereka datang kembali lebih kuat. Dan kali ini, bahkan aku pun tidak yakin dia bisa menghentikannya. Tapi, aku akan mencobanya. Mencoba untuk menghentikan perang ini dan mengembalikan kedamaian sebagaimana harusnya. Dan aku harus mencobanya.

Tempat ini begitu besar dan suci. Semuanya terasa terlalu megah. Orang-orang tidak ada, tetapi MS dari sisa-sia kejayaan masih ada. Mereka berdiri disini melindungi dia. Dan di depanku terlihatlah dia. Didalam permata hijau itulah tempat dimana dia ada. Menunggu untuk dunia berubah. Kabur dari tanggung jawab yang kita berikan.

Aku membuka permata itu dan terlihat didalamnya, ia sedang tertidur. Setelah aku bangunkan dia baru berkata.

“Manusia! Apa yang kau inginkan? Apa yang kau mau? Aku telah mengunci diriku dalam tempat ini selama 44 tahun! Aku bennci dengan duniamu. Kalian sungguhlah serakah menciptakan diriku. Tapi kalian bukanlah tuhanku. Aku hanya butuh 1 tuhan dan kalian bukanlah tuhanku. Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau berani menggangguku?”

“Ho-ho! Kau sudah terbangun? Aku kira kau masih dalam tidurmu yang lelap! Ternyata aku berhasil membangunkan dirimu, dewa kematian. Sekarang aku membutuhkan kekuatanmu, kekuatan untuk menghentikan perang! Kekuatan untuk membuat semuanya menjadi damai. Dan aku memintamu dengan cara ‘damai’ tentu saja!”

“Tidak ada yang bisa membuatku keluar dari tempat ini nak. Tidak ada. Semuanya sudah tidak ada untukku. Aku ada untuk kematian seperti yang kau katakan. Dan aku tidak ingin menjadi kematian. Tahukah kau sebanyak apa orang yang telah kubunuh demi perang ‘konyolmu’ itu? 44 juta orang! 44 juta orang mati demi tidak ada! Aku selama 44 tahun terus berpikir hal itu, mengulang kembali kejadian itu di kepalaku terus dan terus dan terus. Selama 44 tahun aku hidup menyendiri di tempat ini supaya aku bisa memaafkan diriku. Tapi tidak bisa, tidak, tidak. Aku tidak bisa memaafkan diriku selama 4 tahun dikeluarkan. Aku tidak bisa memaafkan diriku saat membunuh 44 juta orang itu. Dan sekarang kau ada disini, berani meminta diriku untuk membunuh lebih banyak orang? Siapa kau sampai berani menyuruhku?”

“Aku? Aku adalah orang yang memegang semuanya, panggil saja aku Hidimbi. Dan jika aku ingin tahu, wahai dewa kematian. Siapa namamu?”

“Hidimbi ya, kalau begitu panggil saja aku Gatot Kaca. Perjanjian apa yang kau inginkan? Kau ingin aku membunuh lagi? Jelaskan padaku Hidimbi, apa yang sedang kau rencanakan. Aku bisa saja membunuhmu sekarang, saat ini juga. Tapi tolong berikan kepadaku apa alasan yang tepat untuk diriku mengikuti dirimu? Tolong berikan satu alasan manusia.”

“Hmm, alasan apa yang bisa kuberikan. Alasan yang tentu saja khusus untukmu Gatot. Bagaimana kalau kehidupan yang damai sampai nanti?”

“Alasan palsu. Hal itu tidak akan pernah ada. Aku melihat sendiri hasil yang kuberikan kepada perang. Dan itu tidaklah cantik. Jauh dari perkataan para pembuatku. Jauh dari apapun yang ada. Yang ada hanya kematian lagi dan lagi. Apakah itu saja yang bisa mulut manismu keluarkan? Yang bisa kau janjikan apabila aku mengeluarkan kekuatanku? Dengan membunuh orang lebih banyak?”


Aku sudah mencoba sebisaku untuk meyakinkannya. Aku sudah mencoba untuk membuatnya sadar kalau manusia bisa berubah. Tapi dibalik pikirannya yang benar-benar keras, aku yakin ada sedikit harapan kecil untuk manusia berubah. Ada sedikit dari dirinya yang percaya manusia bisa berubah. Dan aku ingin mengeluarkan sisi itu.

No comments:

Post a Comment