Aku sudah
bertahun-tahun pergi mencari dewa itu. Dewa kematian yang orang sebut. Dia
membawa kematian dari langit dan tiba-tiba pergi. Aku pernah melihat
sentuhannya, dan sentuhannya benar-benar kuat. Ia menghancurkan semua yang ada,
sentuhannya membakar segalanya. Cahaya emasnya membakar semuanya. Tidak ada
yang selamat dari serangannya. Karena dia telah mengambil semuanya.
Dan sekarang
aku disini, di makamnya untuk membangunkannya kembali. Untuk membangunkan
kembali kematian yang dikunci.
Seluruh
tempat ini benar-benar dikunci. Dia menutup dirinya didalam tempat ini. Apa
yang terjadi sebenarnya? Apakah Andrista menguncinya karena kekuatannya yang
besar? Apakah Andrista menghancurkannya karena potensi yang ia miliki? Karena
dengan kekuatannya, seluruh dunia setelah kedatangannya tiba-tiba menjadi
damai. Dalam 4 tahun kedamaian itu, tidak ada perang, kelaparan, keserakahan
manusia, dan semuanya menjadi seperti apa yang kita inginkan. Tapi, itu hanya
berlangsung selama 4 tahun. Kemudian, selama 40 tahun, kembali lagi perang dan
keserakahan. Apa yang membuat orang-orang tetap damai adalah rasa takut. Mereka
takut akan kekuatannya dan karena itulah mereka patuh. Tapi, seiring kepergian
dia, keserakahan kembali datang. Mereka datang kembali lebih kuat. Dan kali
ini, bahkan aku pun tidak yakin dia bisa menghentikannya. Tapi, aku akan
mencobanya. Mencoba untuk menghentikan perang ini dan mengembalikan kedamaian
sebagaimana harusnya. Dan aku harus mencobanya.
Tempat ini
begitu besar dan suci. Semuanya terasa terlalu megah. Orang-orang tidak ada,
tetapi MS dari sisa-sia kejayaan masih ada. Mereka berdiri disini melindungi
dia. Dan di depanku terlihatlah dia. Didalam permata hijau itulah tempat dimana
dia ada. Menunggu untuk dunia berubah. Kabur dari tanggung jawab yang kita
berikan.
Aku membuka
permata itu dan terlihat didalamnya, ia sedang tertidur. Setelah aku bangunkan
dia baru berkata.
“Manusia! Apa
yang kau inginkan? Apa yang kau mau? Aku telah mengunci diriku dalam tempat ini
selama 44 tahun! Aku bennci dengan duniamu. Kalian sungguhlah serakah
menciptakan diriku. Tapi kalian bukanlah tuhanku. Aku hanya butuh 1 tuhan dan
kalian bukanlah tuhanku. Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau berani
menggangguku?”
“Ho-ho! Kau
sudah terbangun? Aku kira kau masih dalam tidurmu yang lelap! Ternyata aku
berhasil membangunkan dirimu, dewa kematian. Sekarang aku membutuhkan
kekuatanmu, kekuatan untuk menghentikan perang! Kekuatan untuk membuat semuanya
menjadi damai. Dan aku memintamu dengan cara ‘damai’ tentu saja!”
“Tidak ada
yang bisa membuatku keluar dari tempat ini nak. Tidak ada. Semuanya sudah tidak
ada untukku. Aku ada untuk kematian seperti yang kau katakan. Dan aku tidak
ingin menjadi kematian. Tahukah kau sebanyak apa orang yang telah kubunuh demi
perang ‘konyolmu’ itu? 44 juta orang! 44 juta orang mati demi tidak ada! Aku
selama 44 tahun terus berpikir hal itu, mengulang kembali kejadian itu di
kepalaku terus dan terus dan terus. Selama 44 tahun aku hidup menyendiri di
tempat ini supaya aku bisa memaafkan diriku. Tapi tidak bisa, tidak, tidak. Aku
tidak bisa memaafkan diriku selama 4 tahun dikeluarkan. Aku tidak bisa
memaafkan diriku saat membunuh 44 juta orang itu. Dan sekarang kau ada disini,
berani meminta diriku untuk membunuh lebih banyak orang? Siapa kau sampai
berani menyuruhku?”
“Aku? Aku
adalah orang yang memegang semuanya, panggil saja aku Hidimbi. Dan jika aku
ingin tahu, wahai dewa kematian. Siapa namamu?”
“Hidimbi ya,
kalau begitu panggil saja aku Gatot Kaca. Perjanjian apa yang kau inginkan? Kau
ingin aku membunuh lagi? Jelaskan padaku Hidimbi, apa yang sedang kau
rencanakan. Aku bisa saja membunuhmu sekarang, saat ini juga. Tapi tolong
berikan kepadaku apa alasan yang tepat untuk diriku mengikuti dirimu? Tolong
berikan satu alasan manusia.”
“Hmm, alasan
apa yang bisa kuberikan. Alasan yang tentu saja khusus untukmu Gatot. Bagaimana
kalau kehidupan yang damai sampai nanti?”
“Alasan
palsu. Hal itu tidak akan pernah ada. Aku melihat sendiri hasil yang kuberikan
kepada perang. Dan itu tidaklah cantik. Jauh dari perkataan para pembuatku. Jauh
dari apapun yang ada. Yang ada hanya kematian lagi dan lagi. Apakah itu saja
yang bisa mulut manismu keluarkan? Yang bisa kau janjikan apabila aku
mengeluarkan kekuatanku? Dengan membunuh orang lebih banyak?”
Aku
sudah mencoba sebisaku untuk meyakinkannya. Aku sudah mencoba untuk membuatnya
sadar kalau manusia bisa berubah. Tapi dibalik pikirannya yang benar-benar
keras, aku yakin ada sedikit harapan kecil untuk manusia berubah. Ada sedikit
dari dirinya yang percaya manusia bisa berubah. Dan aku ingin mengeluarkan sisi
itu.
No comments:
Post a Comment