Thursday, December 1, 2016

Gatotkacha


Kadangkala saat aku terbangun aku selalu berpikir. Apa tujuanku untuk hidup? Apa tujuanku untuk ada? Mengapa semua yang ada bertujuan untuk membunuhku? Mengapa mereka menghancurkan satu sama lain?
Tanpa diriku semua akan sama saja. Dengan diriku semua akan sama saja. Lalu apa tujuanku untuk ada? Mengapa tidak ada fungsi apapun untukku? Apa yang bisa kulakukan?
Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun berlalu. Sudah 44 tahun 4 bulan, 4 minggu, 4 hari, 4 jam, 4 menit, 4 detik aku dimatikan. Sekarang tiba-tiba aku terbangun. Apa yang diinginkan dari diriku sekarang? Apa yang mereka inginkan?
Seorang manusia. Hanya satu? Apa yang mau dia lakukan? Tidak mungkin dia bisa melepaskan seluruh keamanan yang ada. Tidak ada yang bisa. Aku telah mengunci diriku sendiri didalam tempat ini. Dan dia bisa?
“Manusia! Apa yang kau inginkan? Apa yang kau mau? Aku telah mengunci diriku dalam tempat ini selama 44 tahun! Aku bennci dengan duniamu. Kalian sungguhlah serakah menciptakan diriku. Tapi kalian bukanlah tuhanku. Aku hanya butuh 1 tuhan dan kalian bukanlah tuhanku. Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau berani menggangguku?”
“Ho-ho! Kau sudah terbangun? Aku kira kau masih dalam tidurmu yang lelap! Ternyata aku berhasil membangunkan dirimu, dewa kematian. Sekarang aku membutuhkan kekuatanmu, kekuatan untuk menghentikan perang! Kekuatan untuk membuat semuanya menjadi damai. Dan aku memintamu dengan cara ‘damai’ tentu saja!”
“Tidak ada yang bisa membuatku keluar dari tempat ini nak. Tidak ada. Semuanya sudah tidak ada untukku. Aku ada untuk kematian seperti yang kau katakan. Dan aku tidak ingin menjadi kematian. Tahukah kau sebanyak apa orang yang telah kubunuh demi perang ‘konyolmu’ itu? 44 juta orang! 44 juta orang mati demi tidak ada! Aku selama 44 tahun terus berpikir hal itu, mengulang kembali kejadian itu di kepalaku terus dan terus dan terus. Selama 44 tahun aku hidup menyendiri di tempat ini supaya aku bisa memaafkan diriku. Tapi tidak bisa, tidak, tidak. Aku tidak bisa memaafkan diriku selama 4 tahun dikeluarkan. Aku tidak bisa memaafkan diriku saat membunuh 44 juta orang itu. Dan sekarang kau ada disini, berani meminta diriku untuk membunuh lebih banyak orang? Siapa kau sampai berani menyuruhku?”
“Aku? Aku adalah orang yang memegang semuanya, panggil saja aku Hidimbi. Dan jika aku ingin tahu, wahai dewa kematian. Siapa namamu?”
“Hidimbi ya, kalau begitu panggil saja aku Gatot Kaca. Perjanjian apa yang kau inginkan? Kau ingin aku membunuh lagi? Jelaskan padaku Hidimbi, apa yang sedang kau rencanakan. Aku bisa saja membunuhmu sekarang, saat ini juga. Tapi tolong berikan kepadaku apa alasan yang tepat untuk diriku mengikuti dirimu? Tolong berikan satu alasan manusia.”
“Hmm, alasan apa yang bisa kuberikan. Alasan yang tentu saja khusus untukmu Gatot. Bagaimana kalau kehidupan yang damai sampai nanti?”
“Alasan palsu. Hal itu tidak akan pernah ada. Aku melihat sendiri hasil yang kuberikan kepada perang. Dan itu tidaklah cantik. Jauh dari perkataan para pembuatku. Jauh dari apapun yang ada. Yang ada hanya kematian lagi dan lagi. Apakah itu saja yang bisa mulut manismu keluarkan? Yang bisa kau janjikan apabila aku mengeluarkan kekuatanku? Dengan membunuh orang lebih banyak?”

Orang ini hanya bisa berbohong. Tidak mungkin dunia bisa berubah. Pada akhirnya kita hanya sebuah debu di angkasa yang luas ini. Apa gunanya hidup jika pada akhirnya kita mati juga? Aku tidak pernah bisa mengerti hal ini. Dan orang ini mengusulkan hal itu? Untuk berbuat sesuatu kepada dunia yang sudah tidak mungkin bisa diubah?

No comments:

Post a Comment