Kadangkala
saat aku terbangun aku selalu berpikir. Apa tujuanku untuk hidup? Apa tujuanku
untuk ada? Mengapa semua yang ada bertujuan untuk membunuhku? Mengapa mereka
menghancurkan satu sama lain?
Tanpa diriku
semua akan sama saja. Dengan diriku semua akan sama saja. Lalu apa tujuanku
untuk ada? Mengapa tidak ada fungsi apapun untukku? Apa yang bisa kulakukan?
Hari demi
hari berlalu, tahun demi tahun berlalu. Sudah 44 tahun 4 bulan, 4 minggu, 4
hari, 4 jam, 4 menit, 4 detik aku dimatikan. Sekarang tiba-tiba aku terbangun.
Apa yang diinginkan dari diriku sekarang? Apa yang mereka inginkan?
Seorang
manusia. Hanya satu? Apa yang mau dia lakukan? Tidak mungkin dia bisa
melepaskan seluruh keamanan yang ada. Tidak ada yang bisa. Aku telah mengunci
diriku sendiri didalam tempat ini. Dan dia bisa?
“Manusia! Apa
yang kau inginkan? Apa yang kau mau? Aku telah mengunci diriku dalam tempat ini
selama 44 tahun! Aku bennci dengan duniamu. Kalian sungguhlah serakah
menciptakan diriku. Tapi kalian bukanlah tuhanku. Aku hanya butuh 1 tuhan dan
kalian bukanlah tuhanku. Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau berani
menggangguku?”
“Ho-ho! Kau
sudah terbangun? Aku kira kau masih dalam tidurmu yang lelap! Ternyata aku
berhasil membangunkan dirimu, dewa kematian. Sekarang aku membutuhkan
kekuatanmu, kekuatan untuk menghentikan perang! Kekuatan untuk membuat semuanya
menjadi damai. Dan aku memintamu dengan cara ‘damai’ tentu saja!”
“Tidak ada
yang bisa membuatku keluar dari tempat ini nak. Tidak ada. Semuanya sudah tidak
ada untukku. Aku ada untuk kematian seperti yang kau katakan. Dan aku tidak
ingin menjadi kematian. Tahukah kau sebanyak apa orang yang telah kubunuh demi
perang ‘konyolmu’ itu? 44 juta orang! 44 juta orang mati demi tidak ada! Aku
selama 44 tahun terus berpikir hal itu, mengulang kembali kejadian itu di
kepalaku terus dan terus dan terus. Selama 44 tahun aku hidup menyendiri di
tempat ini supaya aku bisa memaafkan diriku. Tapi tidak bisa, tidak, tidak. Aku
tidak bisa memaafkan diriku selama 4 tahun dikeluarkan. Aku tidak bisa
memaafkan diriku saat membunuh 44 juta orang itu. Dan sekarang kau ada disini,
berani meminta diriku untuk membunuh lebih banyak orang? Siapa kau sampai
berani menyuruhku?”
“Aku? Aku
adalah orang yang memegang semuanya, panggil saja aku Hidimbi. Dan jika aku
ingin tahu, wahai dewa kematian. Siapa namamu?”
“Hidimbi ya,
kalau begitu panggil saja aku Gatot Kaca. Perjanjian apa yang kau inginkan? Kau
ingin aku membunuh lagi? Jelaskan padaku Hidimbi, apa yang sedang kau
rencanakan. Aku bisa saja membunuhmu sekarang, saat ini juga. Tapi tolong
berikan kepadaku apa alasan yang tepat untuk diriku mengikuti dirimu? Tolong
berikan satu alasan manusia.”
“Hmm, alasan
apa yang bisa kuberikan. Alasan yang tentu saja khusus untukmu Gatot. Bagaimana
kalau kehidupan yang damai sampai nanti?”
“Alasan
palsu. Hal itu tidak akan pernah ada. Aku melihat sendiri hasil yang kuberikan
kepada perang. Dan itu tidaklah cantik. Jauh dari perkataan para pembuatku.
Jauh dari apapun yang ada. Yang ada hanya kematian lagi dan lagi. Apakah itu
saja yang bisa mulut manismu keluarkan? Yang bisa kau janjikan apabila aku
mengeluarkan kekuatanku? Dengan membunuh orang lebih banyak?”
Orang
ini hanya bisa berbohong. Tidak mungkin dunia bisa berubah. Pada akhirnya kita
hanya sebuah debu di angkasa yang luas ini. Apa gunanya hidup jika pada
akhirnya kita mati juga? Aku tidak pernah bisa mengerti hal ini. Dan orang ini
mengusulkan hal itu? Untuk berbuat sesuatu kepada dunia yang sudah tidak
mungkin bisa diubah?
No comments:
Post a Comment