Monday, October 24, 2016

KTI

Membangun Jiwa sosial di lingkungan sekolah dan luar sekolah

Latar Belakang:

Jadi, sebelum kita masuk kedalam topik dari judul itu, kita lihat dulu apa itu maksudnya dari jiwa sosial.  Mungkin lebih tepatnya arti sosial itu sendiri. Menurut seorang ahli sosiologi, Philip Wexler, sosial adalah sifat dasar dari setiap individu manusia1. Dan menurut saya sendiri, sosial adalah interaksi antar makhluk hidup. Sedangkan dari KBBI arti dari sosial adalah suka memperhatikan kepentingan umum2. Dari arti dan definisi di atas, kita bisa melihat kalau manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan dan saling berhubungan satu-sama lain. 
Sekarang ada sebuah kata-kata yang sering disebutkan oleh anak remaja saat ini. Yaitu anti-sosial. Anti sosial adalah sifat dari seorang manusia yang memberikan ciri-ciri menutup dirinya dari masyarakat atau melakukan sesuatu yang dianggap merugikan masyarakat tanpa memandang kerugian yang dia timbulkan. Biasanya kegiatan yang mereka lakukan adalah menutup diri mereka dari bentuk komunikasi terhadap lingkungan masyarakat. Atau yang dalam situasi yang paling gawat adalah melakukan tindakan yang diluar masyarakat.
Saya mengangkat topik anti-sosial ini karena menurut saya, sikap ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kita sebagai manusia harusnya saling menjalin kerja sama yang terus menerus. Tapi, jika ada orang yang mendapatkan sifat seperti ini bisa membuat ketidaknyamanan di masyarakat. Apalagi dihadapkan dengan keadaan sosial kita yang saat ini sangat sensitif. Karena terkadang, beberapa materi yang seharusnya bisa disikapi dengan ringan langsung dianggap serius oleh mereka. Dan sikap ini membuat keadaan lingkungan sosial di masyarakat menjadi gampang sekali tersinggung oleh kata-kata yang mereka anggap sensitif. Apalagi di zaman yang sangat rentan ini, banyak orang yang tersinggung dengan isu-isu apapun. Itu bisa termaksuk perang, agama, gender, dan lain-lain.
Khusus untuk topik yang saya angkat, akan saya khususkan untuk anak berumur 8-13 tahun. Karena[K1]  di umur inilah, anak-anak saya nilai paling rentan saat mereka dapat sikap anti-sosial. Karena, kebanyakan anak yang saya lihat sekarang di zaman ini mudah sekali tersinggung. Ada juga anak-anak yang sudah mengenal materi yang seharusnya tidak mereka ketahui pada umumnya di umur mereka. Hal ini bisa membuat mereka menciptakan sikap anti-sosial. Juga pada umur yang muda bila sering dipapar dengan lingkungan yang memberikan aura negatif, maka pada dewasa juga mereka nantinya dikhawatirkan untuk membuat sikap anti-sosial. Karena, pada anak-anak di umur 8-13 tahun, mereka masih ada yang butuh bimbingan dari orang dewasa. Dan pada masa itu mereka sedang mengembangkan konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dan lingkungan sosial memberikan peran yang cukup banyak dalam pembentukan konsep itu. Di masa ini mereka juga membentuk fisik yang dibutuhkan untuk bermain.
Ada banyak penyebab dari sikap anti sosial. Tapi yang sering dijadikan penyebab utama adalah karena sering dirundung di sekolah dan kurangnya perhatian orangtua. Alasan[K2]  dari perundungan salah satu penyebab utama dikarenakan saat anak sedang menjalin hubungan sosial bersama teman-temannya, tiba-tiba mereka dihadapkan dengan perilaku orang lain yang menjelek-jelekkan mereka. Hal ini membuat anak menjadi tidak suka terhadap keadaan sosial yang ada dan cenderung membuat sikap anti sosial itu muncul.  Salah satu bentuk perundungan yang paling sering terjadi adalah bentuk perundungan fisik. Perundungan fisik sering terjadi karena salah satu fitur yang paling mudah dikenali adalah fisik seseorang. Dan terkadang, yang berakhir adalah sang anak masih belum bisa menerima fisiknya. Yang akhirnya berujung kepada mereka bersikap buruk terhadap badan mereka sendiri dan lingkungan sosial yang ada.



1
.      Apa ciri-ciri anak anti sosial?
2.      Apa penyebab dari sikap anti sosial?
3.      Apa dampak yang bisa didapatkan dari sikap anti sosial?
4.      Apa solusi yang bisa ditawarkan untuk menangani masalah ini?


Pembahasan
1. Ciri-ciri Anak Anti Sosial
Anak anti sosial mungkin sulit dikenali pada awalnya. Tapi, ciri-ciri mereka bisa terlihat saat sudah mulai berkembang sifatnya. Sifat-sifat yang biasanya dimiliki oleh anak dengan sifat anti sosial: 
·         Mereka cenderung menyendiri
·         Mereka selalu menyembunyikan masalah yang mereka miliki
·         Jarang membuka komunikasi
·         Mereka memiliki ego yang sangat tinggi
(http://terapipsikologi.com/?anti-sosial-penyebab-ciri,99)
Salah satu kasus yang saya temukan berasal dari teman saya sendiri waktu saya duduk di kelas 6 SD. Berdasarkan observasi yang saya lakukan, teman saya waktu itu datang ke sekolah berasal dari Sumatera. Dia sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi, karena dia fisiknya berbeda dengan teman-teman kebanyakan dia sering sekali ejek. Pada awalnya dia tidak terlalu peduli, tapi lama kelamaan dia sebal juga. Dengan hal yang terakhir ia lakukan adalah mencakar salah satu teman kelas sampai berdarah.
Pada awalnya, ia menyesali perbuatan itu dan guru pun, memarahinya. Tapi, lama-kelamaan dia membuat sikap yang menjauhkan dirinya dari teman-teman yang lain. Dan dia menjadi sering bertindak sendriri di kelas, tidak mendengarkan kata-kata guru, tidur, dan sebagainya. Dan jika saya melihat dia, seakan tidak memiliki rasa penyesalan dalam matanya.
Berdasarkan data dan amatan yang diteliti, kebanyakan kasus yang ada berasal dari laki-laki. Alasan kenapa ini bisa terjadi masih belum diketahui.

2. Penyebab dari sikap anti sosial ada banyak, tapi beberapa berasal dari lingkungan dan masa kecil. Misalnya saja, dipermalukan di depan umum. Hal ini dapat kita lihat di berbagai lingkungan di sekolah. Paling sering dalam kejadian jika kita tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Terkadang, untuk menghukum kita, guru kerap kali menyuruh kita berdiri di depan kelas atau hormat kepada tiang bendera. Mungkin dengan tujuan untuk mempermalukan diri kita supaya tidak berbuat seperti itu lagi. Ada juga yang di rumahnya sering sekali dipapar oleh lingkungan yang negatif. Misalnya saja, orangtua yang keras terhadap anak mereka karena berbagai alasan. Atau mereka yang dibesarkan dalam keadaan penuh kata-kata keras dan amarah.
Selain dari lingkungan sekolah maupun rumah masih ada faktor yang menyebabkan anak mengembangkan perilaku anti sosial. Salah satu penyebabnya adalah kasus perundungan, diskriminasi, dan lain-lain. Untuk melihat kasus diskriminasi bisa dilihat di bagian pembahasan nomor 1. Sedangkan untuk contoh kasus perundungan bisa dilihat di bagian pembahasan nomor 4.
Yang menyebabkan anak mengembangkan sikap anti sosial ada juga karena kurangnya diberi pilihan saat masih kecil. Saat masih kecil mereka masih harus diberikan pilihan untuk memilih apa yang mereka mau. Tidak bisa orangtua memaksakan kehendak yang mereka mau kepada anak-anak. Karena pada masa itu mereka memulai untuk menciptakan indera melawan. Jika sang anak dipaksakan kehendak orangtua yang seharusnya tidak dipaksakan, pada dewasa nanti mereka tidak tahu apa yang harus mereka pilih dan apa yang harusnya mereka boleh lakukan. Sehingga pada akhirnya yang mereka lakukan adalah melakukan tindakan diluar norma. Karena keinginan mereka sendiri baru bisa terlaksanakan saat mereka dewasa. Dengan catatan membuat mereka menjadi tidak dewasa juga.
3. Dampak yaang didapatkan dari penyebab diatas bisa beragam. Tapi, yang paling umum adalah perilaku sang anak yang berubah menjadi egois dan tidak lagi peduli kepada teman-temannya juga guru dan masyarakat sekitar. Mereka berubah menjadi tidak produktif dan sering dilihat orang sebagai anak yang bermasalah. Mereka hanya mempedulikan diri sendiri dan kalau dilihat selalu melakukan hal yang mereka anggap asyik. Mungkin saat kecil kegiatan-kegiatan ini dianggap biasa saja dan tidak di gubris. Tapi, semakin besar nantinya, akan berubah lagi kemana arah “kegiatan” ini pergi. Bisa menjadi pidana atau mungkin sebuah karya. Intinya adalah, sifat yang mereka miliki akan berubah dan masyarakat akan terkena dampaknya.
Dan berdasarkan contoh dari teman yang saya perlihatkan tadi, salah satu dampaknya adalah nilainya yang menurun dan kurangnya teman-teman yang ingin bergaul bersamanya. Selain itu kegiatan yang ia lakukan juga terkadang menganggu teman-teman lainnya.
Selain yang tadi diatas, anak biasanya berubah menjadi pribadi yang diam tapi labil. Dalam artian mereka bisa berubah dalam waktu tiba-tiba. Saya perhatikan teman saya yang dianggap sebagai anti sosial. Dan, ada dari mereka yang membuat perilaku ini. Untuk berubah secara tiba-tiba dan “meledak”. Membuat mereka dijauhi oleh yang lain.
Sifat yang bisa mereka kembangkan pada waktu kecil mungkin masih tidak terlihat dan sangat tidak terlalu jelas. Tapi, jika ciri-ciri dari sikap anti sosial tidak diketahui sejak dini, maka dampak yang akan dirasakan ada di masa depan nanti. Mereka bisa bertindak menjadi jauh lebih impulsif. Mereka kadang bertindak tanpa memikirkan konsekuensi yang akan didapat. Dan terkadang mereka malah berbuat sesuatu yang sepenuhnya berada diluar batas norma manusia.
4. Solusi yang bisa ditawarkan itu ada berbagai macam. Tapi, untuk yang utama adalah pendidikan yang tidak membuat anak dalam posisi ditekan. Karena, jika anak berada dalam posisi yang ditekan, hal yang terjadi bisa beragam. Ada banyak sekali kemungkinan yang bisa muncul apabila mereka ditaruh di bawah tekanan. Selain diberi di bawah tekanan, kita juga tidak boleh menjauhi mereka yang memiliki kecendrungan anti sosial. Karena jika kita jauhi, maka sifat ini akan bertambah besar, sedangkan jika kita rangkul dan kita ajak bersama, maka sifat ini bisa lebih berkurang karena mereka merasa kalau ada orang yang peduli terhadap mereka. Bukan hanya mereka sendiri yang berjuang.
Salah satu contoh solusi yang dapat saya berikan adalah sekolah Semi Palar. Disana, anak-anak diberitahu untuk tidak boleh menghina teman-temannya dan bertanggung jawab. Karena mereka masih dalam jenjang SD maka masih wajar kalau ada yang tidak mengerjakan Pekerjaan rumah. Tapi, cara Semi Palar memberikan konsekuensi untuk yang tidak mengerjakan biasanya menambah ilmu yang tidak mengerjakan itu. Tentu saja, mereka mendapatkan pekerjaan dua kali dan memang tidak nyaman. Tapi, mereka juga mendapatkan pelajaran dari yang harusnya mereka buat dan pelajaran tambahan dari hal lain yang harus mereka buat. Contohnya saja dulu saya sendiri pernah tidak menyelesaikan proyek tentang hal yang ingin diperbaiki. Tentu saja saya kerjakan lagi tugas itu dan diberikan tambahan untuk menuliskan masalah-masalah di kota Bandung. Mungkin memang terlihat malah menambah waktu kerja, tapi tidak membuang-buang waktu juga karena menambah kepekaan saya terhadap kota Bandung.
Selain itu dulu saya pernah mempunyai teman yang bernama Gagas (bukan nama asli). Dia dulu sering sekali di bully oleh temannya. Dengan cara dicubit dengan keras dan diancam untuk diminta uangnya. Waktu itu kasus Bullying masih sangat marak di sekolah, jadi ada peringatan tentang Bullying di sekitar sekolah. Dan, Gagas waktu itu langsung melaporkannya kepada orangutanya. Untung saja orangtuanya bertindak dengan cepat, membuat Gagas tidak menjadi korban Bullying.

Beberapa Masalah yang ditimbulkan oleh tindakan anti sosial ini kebanyakan dampaknya hanya pada lingkaran sosial masyarakat. Tapi, meskipun begitu, tindakan yang mereka lakukan bisa mengganggu masyarakat yang lain. Cara mereka menganggu anggota masyarakat yang lain ada macam-macam. Salah satunya adalah mengganggu kinerja masyarakat dengan cara melakukan tindakan diluar norma. Salah satunya saja, tindakan merusak.

Cara mereka mengganggu keadaan sosial bila di umur muda biasanya masih berpusat di diri mereka sendiri. Tapi, bisa juga merusak masyarakat sekitar lainnya. Yang menciptakan keadaan seperti ini biasanya dikarenakan ada masalah di lingkungan sekolah dan lingkungan rumah.
Keadaan interaksi sosial anak-anak di lingkungan sekolah itu kalau dilihat masih normal. Jika saya lihat dari SD Semi Palar sendiri, anak-anak di lingkungan Semi Palar dibesarkan dengan teman-teman yang tidak pernah menghina. Atau lingkungan yang tidak membuat anak dibebani oleh banyak tugas. Sedangkan di lingkungan SD pada umumnya yang saya alami adalah anak-anak sudah di tekan dengan kata-kata “pacaran” atau kata-kata kasar yang seharusnya tidak dibicarakan oleh anak-anak seumur itu pada umumnya. Selain itu di lingkungan SD Semi Palar sendiri saya tidak pernah melihat anak-anak dihukum di depan tiang bendera atau di permalukan di depan kelas. Sedangkan saat saya waktu SD, semua itu saya rasakan. Pengalaman itu pernah membuat saya ingin bunuh diri, tapi saya urungkan.
Struktur Sosial di sekolah biasanya berasal dari anak-anak yang gaul, merela menciptakan geng atau kelompok tersendiri. Saat ini terjadi, biasanya anak-anak yang tidak memiliki geng atau kelompok itu mulai tersingkir dari keadaan sosial di lingkungan sekolah dan akhirnya beberapa membuat sikap anti-sosial itu. Terkadang sikap itu bisa muncul sendiri tanpa hal-hal ini. Tapi sebagian besar dikarenakan hal ini.
Faktor lainnya adalah lingkungan di rumah. Salah satu hal yang meberikan kontribusi dalam membuat sikap anti sosial adalah lingkungan sosial di rumah. Terkadang, apabila ada banyak hal negatif yang dipaparkan di lingkungan rumah bisa menimbulkan kesan-kesan yang buruk pada anak dan pada akhirnya membuat anak menciptakan sikap anti sosial ini.




1 comment:

  1. Krisna, pembelajaran apa, sajakah di Semipalar yg bisa menyelamatkan anak2 dari sikap antisosial? Penting sekali lho buat diuraikan dari tulisanmu sehingga kita semua bisa belajar...

    ReplyDelete