Sebenarnya hari ini seharusnya menjadi hari yang bagus,
karena semuanya terlihat berjalan lancar. Aku tidak telat hari ini dan jalanan
juga tidak macet. Semuanya berjalan dengan sempurna dan lancar, sampai nanti
siang di sekolah. Tapi, mari kita lewati dulu prosesnya, waktu dimana semuanya
masih sempurna sampai semuanya berjalan menjadi tidak sempurna.
Jadi, pagi ini sebenarnya aku harus pergi dengan angkot,
yang untungnya tidak jadi karena beberapa hal. Tapi, untungnya saja aku tidak
jadi. Karena itulah, aku pergi sampai di sekolah agak siang, meskipun tidak
sampai terlambat. Karena kalau terlambat, ya begitulah. Di kelas semuanya
berjalan seperti biasa dan normal kecuali satu. Satu hal, tenggorokanku terasa
sangat, sangat gatal. Benar-benar gatal seperti kau ingin batuk, dan memang
jadinya aku batuk-batuk terus di sekolah. Tapi, semuanya berjalan dengan mulus
dan lancar, tidak ada yang tiba-tiba aku jatuh ambruk atau apa. Salah satu
penyebab aku tidak ambruk adalah aku masih di sekolah. Kalau aku di luar
sekolah, aku juga tidak boleh ambruk, karena kalau ambruk di jalanan, itu juga
berbahaya. Jadi, tempat paling aman untuk ambruk dimana? Tentu saja di rumah!
Tapi mari kembali lagi ke awal cerita.
Jadi, setelah aku di sekolah selama sekitar 4-5 jam, aku mulai
merasakan perasaan itu. Perasaan yang merasa itu. Ya, kita tahu itu perasaan
yang kita rasakan saat mau sakit. Perasaan itu datang tiba-tiba seperti jet wtc.
(dark joke). Saat itu sedang istirahat, kita sedang menikmati waktu kita dan
aku, jatuh dengan terbatuk-batuk dan muka yang merah. Betul-betul merah. Merah
seperti udang rebus. Saking merahnya mereka tertawa. Ya, teman baik ialah teman
yang menertawakanmu, baru mereka memberikanmu minum karena kasihan. Dan, betapa
hancurnya aku waktu itu. Karena aku sebagai seorang senior sedang duduk di
daerah SMP (Ingat baik-baik aku masih SMA) dan munkin mereka melihatku sebagai
seorang kakak kelas yang gagal. Gagal mungkin iya, tapi aku sedang mencoba
menata diriku sendiri. Jadi, selama 2 menit aku terbatuk-batuk mereka
memperhatikanku, mungkin dengan guru yang lain juga, tapi aku menjadi malu.
Dan, untuk memperburuk keadaan, aku tidak bisa berbicara. Karena jika aku
berbicara sepatah kata pun, batuknya akan langsung kambuh, betul-betul kambuh.
Karena itulah, sebagian besar waktuku aku pakai untuk mengetik di google
translate dan membiarkan mereka mengatakannya untukku. Dan, jujur saja itu
benar-benar bodoh. Dan tidak berguna. Tapi, ya bagaimana lagi. Untuk
menyampaikan apa yang ada di kepalamu kau akan gunakkan segalanya kan? Dan
untuk memperburuk keadaan, aku tidak bisa menghabiskan tenaga seperti biasanya.
Padahal, aku ini orangnya paling suka berbicara dan aku benar-benar tersiksa
karena hal ini.
Akhirnya aku pulang dan semuanya menjadi tenang. Atau iya?
Ternyata tidak. Selama perjalanan, aku terpapar gas karbon Monoksida yang
membuat orang menjadi mengantuk. Dan untuk memperburuk keadaan, aku saat sampai
di rumah langsung ambruk. Disinilah keadaan semuanya memburuk. Aku menjadi
sakit, padahal besok adalah saat yang sangat penting untuk sekolah dan aku
benar-benar marah kepada diriku sendiri. Bagaimana caranya seperti ini?
Aku sedang mencoba saja membuat tulisan seperti ini karena penasaran bagaimana reaksinya. Jadi, ya.
No comments:
Post a Comment