Membangun Jiwa sosial di lingkungan
sekolah dan luar sekolah
Latar Belakang:
Jadi, sebelum kita masuk kedalam
topik dari judul itu, kita lihat dulu apa itu maksudnya dari jiwa sosial. Mungkin lebih tepatnya arti sosial itu
sendiri. Menurut seorang ahli sosiologi, Philip Wexler, sosial adalah sifat
dasar dari setiap individu manusia1. Dan menurut saya sendiri,
sosial adalah interaksi antar makhluk hidup. Sedangkan dari KBBI arti dari
sosial adalah suka memperhatikan kepentingan umum2. Dari arti dan
definisi di atas, kita bisa melihat kalau manusia adalah makhluk yang saling
membutuhkan dan saling berhubungan satu-sama lain.
Sekarang ada sebuah kata-kata yang
sering disebutkan oleh anak remaja saat ini. Yaitu anti-sosial. Anti sosial
adalah sifat dari seorang manusia yang memberikan ciri-ciri menutup dirinya
dari masyarakat atau melakukan sesuatu yang dianggap merugikan masyarakat tanpa
memandang kerugian yang dia timbulkan. Biasanya kegiatan yang mereka lakukan
adalah menutup diri mereka dari bentuk komunikasi terhadap lingkungan
masyarakat. Atau yang dalam situasi yang paling gawat adalah melakukan tindakan
yang diluar masyarakat.
Saya mengangkat topik anti-sosial
ini karena menurut saya, sikap ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kita
sebagai manusia harusnya saling menjalin kerja sama yang terus menerus. Tapi,
jika ada orang yang mendapatkan sifat seperti ini bisa membuat ketidaknyamanan
di masyarakat. Apalagi dihadapkan dengan keadaan sosial kita yang saat ini
sangat sensitif. Karena terkadang, beberapa materi yang seharusnya bisa
disikapi dengan ringan langsung dianggap serius oleh mereka. Dan sikap ini
membuat keadaan lingkungan sosial di masyarakat menjadi gampang sekali tersinggung
oleh kata-kata yang mereka anggap sensitif. Apalagi di zaman yang sangat rentan
ini, banyak orang yang tersinggung dengan isu-isu apapun. Itu bisa termaksuk
perang, agama, gender, dan lain-lain.
Khusus untuk topik yang saya
angkat, akan saya khususkan untuk anak berumur 8-13 tahun. Karena[K1] di umur
inilah, anak-anak saya nilai paling rentan saat mereka dapat sikap anti-sosial.
Karena, kebanyakan anak yang saya lihat sekarang di zaman ini mudah sekali
tersinggung. Ada juga anak-anak yang sudah mengenal materi yang seharusnya
tidak mereka ketahui pada umumnya di umur mereka. Hal ini bisa membuat mereka
menciptakan sikap anti-sosial. Juga pada umur yang muda bila sering dipapar
dengan lingkungan yang memberikan aura negatif, maka pada dewasa juga mereka
nantinya dikhawatirkan untuk membuat sikap anti-sosial. Karena, pada anak-anak
di umur 8-13 tahun, mereka masih ada yang butuh bimbingan dari orang dewasa.
Dan pada masa itu mereka sedang mengembangkan konsep yang diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari. Dan lingkungan sosial memberikan peran yang cukup banyak
dalam pembentukan konsep itu. Di masa ini mereka juga membentuk fisik yang
dibutuhkan untuk bermain.
Ada banyak penyebab dari sikap anti
sosial. Tapi yang sering dijadikan penyebab utama adalah karena sering
dirundung di sekolah dan kurangnya perhatian orangtua. Alasan[K2] dari
perundungan salah satu penyebab utama dikarenakan saat anak sedang menjalin
hubungan sosial bersama teman-temannya, tiba-tiba mereka dihadapkan dengan
perilaku orang lain yang menjelek-jelekkan mereka. Hal ini membuat anak menjadi
tidak suka terhadap keadaan sosial yang ada dan cenderung membuat sikap anti
sosial itu muncul. Salah satu bentuk
perundungan yang paling sering terjadi adalah bentuk perundungan fisik.
Perundungan fisik sering terjadi karena salah satu fitur yang paling mudah
dikenali adalah fisik seseorang. Dan terkadang, yang berakhir adalah sang anak
masih belum bisa menerima fisiknya. Yang akhirnya berujung kepada mereka
bersikap buruk terhadap badan mereka sendiri dan lingkungan sosial yang ada.
1
. Apa
ciri-ciri anak anti sosial?
2. Apa
penyebab dari sikap anti sosial?
3. Apa dampak
yang bisa didapatkan dari sikap anti sosial?
4. Apa solusi
yang bisa ditawarkan untuk menangani masalah ini?
Pembahasan
1. Ciri-ciri Anak Anti Sosial
Anak anti sosial mungkin sulit dikenali pada awalnya. Tapi,
ciri-ciri mereka bisa terlihat saat sudah mulai berkembang sifatnya.
Sifat-sifat yang biasanya dimiliki oleh anak dengan sifat anti sosial:
·
Mereka cenderung menyendiri
·
Mereka selalu menyembunyikan masalah yang mereka
miliki
·
Jarang membuka komunikasi
·
Mereka memiliki ego yang sangat tinggi
(http://terapipsikologi.com/?anti-sosial-penyebab-ciri,99)
Salah satu kasus yang saya temukan
berasal dari teman saya sendiri waktu saya duduk di kelas 6 SD. Berdasarkan
observasi yang saya lakukan, teman saya waktu itu datang ke sekolah berasal
dari Sumatera. Dia sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi, karena dia
fisiknya berbeda dengan teman-teman kebanyakan dia sering sekali ejek. Pada
awalnya dia tidak terlalu peduli, tapi lama kelamaan dia sebal juga. Dengan hal
yang terakhir ia lakukan adalah mencakar salah satu teman kelas sampai
berdarah.
Pada awalnya, ia menyesali
perbuatan itu dan guru pun, memarahinya. Tapi, lama-kelamaan dia membuat sikap
yang menjauhkan dirinya dari teman-teman yang lain. Dan dia menjadi sering
bertindak sendriri di kelas, tidak mendengarkan kata-kata guru, tidur, dan
sebagainya. Dan jika saya melihat dia, seakan tidak memiliki rasa penyesalan
dalam matanya.
Berdasarkan data dan amatan yang
diteliti, kebanyakan kasus yang ada berasal dari laki-laki. Alasan kenapa ini
bisa terjadi masih belum diketahui.
2. Penyebab dari sikap anti sosial
ada banyak, tapi beberapa berasal dari lingkungan dan masa kecil. Misalnya
saja, dipermalukan di depan umum. Hal ini dapat kita lihat di berbagai
lingkungan di sekolah. Paling sering dalam kejadian jika kita tidak mengerjakan
pekerjaan rumah. Terkadang, untuk menghukum kita, guru kerap kali menyuruh kita
berdiri di depan kelas atau hormat kepada tiang bendera. Mungkin dengan tujuan
untuk mempermalukan diri kita supaya tidak berbuat seperti itu lagi. Ada juga
yang di rumahnya sering sekali dipapar oleh lingkungan yang negatif. Misalnya
saja, orangtua yang keras terhadap anak mereka karena berbagai alasan. Atau
mereka yang dibesarkan dalam keadaan penuh kata-kata keras dan amarah.
Selain dari lingkungan sekolah
maupun rumah masih ada faktor yang menyebabkan anak mengembangkan perilaku anti
sosial. Salah satu penyebabnya adalah kasus perundungan, diskriminasi, dan
lain-lain. Untuk melihat kasus diskriminasi bisa dilihat di bagian pembahasan
nomor 1. Sedangkan untuk contoh kasus perundungan bisa dilihat di bagian
pembahasan nomor 4.
Yang menyebabkan anak mengembangkan
sikap anti sosial ada juga karena kurangnya diberi pilihan saat masih kecil.
Saat masih kecil mereka masih harus diberikan pilihan untuk memilih apa yang
mereka mau. Tidak bisa orangtua memaksakan kehendak yang mereka mau kepada
anak-anak. Karena pada masa itu mereka memulai untuk menciptakan indera
melawan. Jika sang anak dipaksakan kehendak orangtua yang seharusnya tidak
dipaksakan, pada dewasa nanti mereka tidak tahu apa yang harus mereka pilih dan
apa yang harusnya mereka boleh lakukan. Sehingga pada akhirnya yang mereka
lakukan adalah melakukan tindakan diluar norma. Karena keinginan mereka sendiri
baru bisa terlaksanakan saat mereka dewasa. Dengan catatan membuat mereka
menjadi tidak dewasa juga.
3. Dampak yaang didapatkan dari
penyebab diatas bisa beragam. Tapi, yang paling umum adalah perilaku sang anak
yang berubah menjadi egois dan tidak lagi peduli kepada teman-temannya juga
guru dan masyarakat sekitar. Mereka berubah menjadi tidak produktif dan sering
dilihat orang sebagai anak yang bermasalah. Mereka hanya mempedulikan diri
sendiri dan kalau dilihat selalu melakukan hal yang mereka anggap asyik.
Mungkin saat kecil kegiatan-kegiatan ini dianggap biasa saja dan tidak di
gubris. Tapi, semakin besar nantinya, akan berubah lagi kemana arah “kegiatan”
ini pergi. Bisa menjadi pidana atau mungkin sebuah karya. Intinya adalah, sifat
yang mereka miliki akan berubah dan masyarakat akan terkena dampaknya.
Dan berdasarkan contoh dari teman
yang saya perlihatkan tadi, salah satu dampaknya adalah nilainya yang menurun
dan kurangnya teman-teman yang ingin bergaul bersamanya. Selain itu kegiatan
yang ia lakukan juga terkadang menganggu teman-teman lainnya.
Selain yang tadi diatas, anak
biasanya berubah menjadi pribadi yang diam tapi labil. Dalam artian mereka bisa
berubah dalam waktu tiba-tiba. Saya perhatikan teman saya yang dianggap sebagai
anti sosial. Dan, ada dari mereka yang membuat perilaku ini. Untuk berubah
secara tiba-tiba dan “meledak”. Membuat mereka dijauhi oleh yang lain.
Sifat yang bisa mereka kembangkan
pada waktu kecil mungkin masih tidak terlihat dan sangat tidak terlalu jelas.
Tapi, jika ciri-ciri dari sikap anti sosial tidak diketahui sejak dini, maka
dampak yang akan dirasakan ada di masa depan nanti. Mereka bisa bertindak
menjadi jauh lebih impulsif. Mereka kadang bertindak tanpa memikirkan
konsekuensi yang akan didapat. Dan terkadang mereka malah berbuat sesuatu yang
sepenuhnya berada diluar batas norma manusia.
4. Solusi yang bisa ditawarkan itu ada
berbagai macam. Tapi, untuk yang utama adalah pendidikan yang tidak membuat
anak dalam posisi ditekan. Karena, jika anak berada dalam posisi yang ditekan,
hal yang terjadi bisa beragam. Ada banyak sekali kemungkinan yang bisa muncul
apabila mereka ditaruh di bawah tekanan. Selain diberi di bawah tekanan, kita
juga tidak boleh menjauhi mereka yang memiliki kecendrungan anti sosial. Karena
jika kita jauhi, maka sifat ini akan bertambah besar, sedangkan jika kita
rangkul dan kita ajak bersama, maka sifat ini bisa lebih berkurang karena
mereka merasa kalau ada orang yang peduli terhadap mereka. Bukan hanya mereka
sendiri yang berjuang.
Salah satu contoh solusi yang dapat
saya berikan adalah sekolah Semi Palar. Disana, anak-anak diberitahu untuk
tidak boleh menghina teman-temannya dan bertanggung jawab. Karena mereka masih
dalam jenjang SD maka masih wajar kalau ada yang tidak mengerjakan Pekerjaan
rumah. Tapi, cara Semi Palar memberikan konsekuensi untuk yang tidak
mengerjakan biasanya menambah ilmu yang tidak mengerjakan itu. Tentu saja,
mereka mendapatkan pekerjaan dua kali dan memang tidak nyaman. Tapi, mereka
juga mendapatkan pelajaran dari yang harusnya mereka buat dan pelajaran
tambahan dari hal lain yang harus mereka buat. Contohnya saja dulu saya sendiri
pernah tidak menyelesaikan proyek tentang hal yang ingin diperbaiki. Tentu saja
saya kerjakan lagi tugas itu dan diberikan tambahan untuk menuliskan
masalah-masalah di kota Bandung. Mungkin memang terlihat malah menambah waktu
kerja, tapi tidak membuang-buang waktu juga karena menambah kepekaan saya
terhadap kota Bandung.
Selain itu dulu saya pernah
mempunyai teman yang bernama Gagas (bukan nama asli). Dia dulu sering sekali di
bully oleh temannya. Dengan cara
dicubit dengan keras dan diancam untuk diminta uangnya. Waktu itu kasus
Bullying masih sangat marak di sekolah, jadi ada peringatan tentang Bullying di
sekitar sekolah. Dan, Gagas waktu itu langsung melaporkannya kepada
orangutanya. Untung saja orangtuanya bertindak dengan cepat, membuat Gagas
tidak menjadi korban Bullying.
Beberapa Masalah yang ditimbulkan
oleh tindakan anti sosial ini kebanyakan dampaknya hanya pada lingkaran sosial
masyarakat. Tapi, meskipun begitu, tindakan yang mereka lakukan bisa mengganggu
masyarakat yang lain. Cara mereka menganggu anggota masyarakat yang lain ada
macam-macam. Salah satunya adalah mengganggu kinerja masyarakat dengan cara
melakukan tindakan diluar norma. Salah satunya saja, tindakan merusak.
Cara mereka mengganggu keadaan
sosial bila di umur muda biasanya masih berpusat di diri mereka sendiri. Tapi,
bisa juga merusak masyarakat sekitar lainnya. Yang menciptakan keadaan seperti
ini biasanya dikarenakan ada masalah di lingkungan sekolah dan lingkungan
rumah.
Keadaan interaksi sosial anak-anak
di lingkungan sekolah itu kalau dilihat masih normal. Jika saya lihat dari SD
Semi Palar sendiri, anak-anak di lingkungan Semi Palar dibesarkan dengan
teman-teman yang tidak pernah menghina. Atau lingkungan yang tidak membuat anak
dibebani oleh banyak tugas. Sedangkan di lingkungan SD pada umumnya yang saya
alami adalah anak-anak sudah di tekan dengan kata-kata “pacaran” atau kata-kata
kasar yang seharusnya tidak dibicarakan oleh anak-anak seumur itu pada umumnya.
Selain itu di lingkungan SD Semi Palar sendiri saya tidak pernah melihat
anak-anak dihukum di depan tiang bendera atau di permalukan di depan kelas.
Sedangkan saat saya waktu SD, semua itu saya rasakan. Pengalaman itu pernah
membuat saya ingin bunuh diri, tapi saya urungkan.
Struktur Sosial di sekolah biasanya
berasal dari anak-anak yang gaul, merela menciptakan geng atau kelompok
tersendiri. Saat ini terjadi, biasanya anak-anak yang tidak memiliki geng atau
kelompok itu mulai tersingkir dari keadaan sosial di lingkungan sekolah dan
akhirnya beberapa membuat sikap anti-sosial itu. Terkadang sikap itu bisa
muncul sendiri tanpa hal-hal ini. Tapi sebagian besar dikarenakan hal ini.
Faktor lainnya adalah lingkungan di
rumah. Salah satu hal yang meberikan kontribusi dalam membuat sikap anti sosial
adalah lingkungan sosial di rumah. Terkadang, apabila ada banyak hal negatif
yang dipaparkan di lingkungan rumah bisa menimbulkan kesan-kesan yang buruk
pada anak dan pada akhirnya membuat anak menciptakan sikap anti sosial ini.


